Cerpen: Dalam Kuyup Gerimis
oleh Y Wibisono
dimuat di edisi 1 – Imajio
“AKU tak bisa, Bram. Sungguh. Senin pagi aku harus siap di sana. Atau, aku harus mengulang tahun depan. Kamu tahu kan, aku ..” Suara beningnya terhenti ketika aku memegang bahunya lembut.
“Demi aku Na, demi aku.”
Matanya menatap lurus padaku, seperti sebuah kilauan sinar yang mencoba mencari sesuatu dalam cerukan.
“Aku tawarkan begini. Kamu tetap ikut reuni di rumah Ketut, dan besok paginya kau sudah di sana.”
“Maksudmu?”
“Aku akan menemanimu besok ke Surabaya, jam berapa pun kau mau!”
Lagi-lagi kilauan sinar itu menerpa mataku. Aku berusaha tenang, meski sungguh aku gelisah ketika mata itu menyorotku.
“Janji ya?”
Cerpen: Suja
oleh Fuadi Ilyas
dimuat di Edisi 7 – Aksara
Surya berlari sambil menangis, menuju gudang di belakang rumah yang telah diubah menjadi kamar dan kini ditempati oleh Suja, sopir keluarga.
”Om Suja… Om Suja, buka pintunya!” Surya berteriak. Ia mengintip dari lubang kunci, tampak cahaya lilin menerangi kamar itu. ”Om Suja…!”
Suara putaran anak kunci terdengar, lalu pintu terbuka. Surya langsung masuk dan memeluk Suja. Tangan Suja mengusap kepala Surya dengan lembut dan membiarkan Surya membasahi pakaian Suja dengan air mata.
Kamar itu agak remang. Angin yang berembus masuk ke dalam menggoyangkan api yang menyala dari sebuah lilin yang lelehannya tampak di batang putih lilin itu. Agar api tidak padam, Suja segera menutup pintu.
Cerpen: Cerita Seorang Penulis
oleh Rommy Tambunan
dimuat di Edisi 6 – Aksara
Tiba-tiba aku tersadar kalau aku punya bakat untuk menulis. Senang sekali rasanya berlama-lama di depan komputer. Mencurahkan semua ide di dalam kepala ditemani secangkir kopi manis. Bakat terpendam yang kuyakin telah berakar sejak kecil tetapi baru tergali sekarang ini sampai-sampai bahkan telah mengalahkan loyalitasku sebagai karyawan sebuah perusahaan asuransi. Aku rela memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang kuanggap tidak berprospek cerah dan banting setir menjadi seorang penulis full-time. Bicara tentang bidang seni sebenarnya bukanlah barang baru buatku. Sejak duduk di bangku TK, sejumlah penghargaan di bidang seni pernah kuraih. Aku pernah menjadi juara pertama melukis se-TK di kotaku. Di Sekolah Dasar, saat anak-anak seumurku masih bermain petak umpet, aku sudah sibuk ikut lomba mengarang. Tepuk tangan dan pujian kagum akan selalu ada setiap kali aku tampil di depan kelas. Membacakan puisi atau pun melakoni seorang tokoh dalam pelajaran drama adalah kesukaanku. Aku tidak mengerti kenapa saat SMA, semua kemampuan itu seakan lenyap ditelan bumi. Konsentrasiku penuh hanya pada pelajaran sekolah dan buku-buku teks. Saat itu hanya ada kata tiada hari tanpa belajar dan tiada waktu untuk seni. Otakku hanya terobsesi untuk satu tujuan, memenuhi harapan orang tua. Melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal.


