Cerpen: Cerita Seorang Penulis
March 18, 2006
oleh Rommy Tambunan
dimuat di Edisi 6 – Aksara
Tiba-tiba aku tersadar kalau aku punya bakat untuk menulis. Senang sekali rasanya berlama-lama di depan komputer. Mencurahkan semua ide di dalam kepala ditemani secangkir kopi manis. Bakat terpendam yang kuyakin telah berakar sejak kecil tetapi baru tergali sekarang ini sampai-sampai bahkan telah mengalahkan loyalitasku sebagai karyawan sebuah perusahaan asuransi. Aku rela memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang kuanggap tidak berprospek cerah dan banting setir menjadi seorang penulis full-time. Bicara tentang bidang seni sebenarnya bukanlah barang baru buatku. Sejak duduk di bangku TK, sejumlah penghargaan di bidang seni pernah kuraih. Aku pernah menjadi juara pertama melukis se-TK di kotaku. Di Sekolah Dasar, saat anak-anak seumurku masih bermain petak umpet, aku sudah sibuk ikut lomba mengarang. Tepuk tangan dan pujian kagum akan selalu ada setiap kali aku tampil di depan kelas. Membacakan puisi atau pun melakoni seorang tokoh dalam pelajaran drama adalah kesukaanku. Aku tidak mengerti kenapa saat SMA, semua kemampuan itu seakan lenyap ditelan bumi. Konsentrasiku penuh hanya pada pelajaran sekolah dan buku-buku teks. Saat itu hanya ada kata tiada hari tanpa belajar dan tiada waktu untuk seni. Otakku hanya terobsesi untuk satu tujuan, memenuhi harapan orang tua. Melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal.
Sekarang setelah bekerja dan menikah dengan Elisabeth, yang kukenal saat kuliah dulu, tiba-tiba nuraniku berontak. Kerinduan untuk kembali menekuni dunia yang pernah kukenal itu kembali terkuak. Mulanya aku mencoba bertahan pada pekerjaan di kantor yang penuh dengan rutinitas dan tekanan. Setahun dua tahun kulalui dengan berhemat dan menabung habis-habisan. Setelah menikah dan punya anak, persoalan menjadi lain. Gaji yang pas pasan dengan status yang tidak jelas sebagai staf kontrak membuat hatiku ketar-ketir. Untuk menjadi staf permanen susah luar biasa. Maklum sekarang budayanya orang bekerja bukan under company, tetapi under agency. Karyawan dipaksa bekerja mati-matian dengan gaji tidak penuh. Sebagian persenan dipotong lebih dulu oleh para agen. Kuatir dipecat sewaktu-waktu karena kebijakan manajemen membuat aku mengambil keputusan hengkang. Argumen lain adalah realita jati diri sendiri. Sebagai seorang melankholik introvert, aku lebih senang mengurung diri untuk menulis atau melukis di rumah daripada harus bekerja keras setiap hari memenuhi target perusahaan. Untuk melamar lagi rasanya mustahil karena terbentur usia.
Adalah satu keuntungan, istriku punya pekerjaan dan jabatan yang sangat bagus. Sebagai seorang supervisor sebuah perusahaan advertising, ia memang seorang wanita yang dilahirkan untuk berkarir. Seorang tipikal pemimpin yang lebih pantas memimpin agenda rapat dan meeting dengan klien ketimbang harus berepot ria di dapur dan memeras cucian. Walaupun begitu Elisabeth, tentunya sangat menopang kehidupan kami dan si kecil, Dewi.
Istriku adalah orang pertama yang sangat menentang keputusanku untuk fokus menjadi seorang penulis. Ia marah besar begitu tahu aku berhenti bekerja untuk memenuhi impianku itu.
“Tenang, Beth …aku tahu apa yang kulakukan,” jelasku dingin.
“Tenang bagaimana, Mas juga ingat dong mana ada orang bisa mengandalkan hidup dari hasil tulisan!”
“Lho, kan banyak juga pengarang yang bisa terkenal dan hidup makmur!“Aku siap berdebat.
“Yah, itu kan cuman satu dari sekian banyak orang yang sukses”
“Aku yakin aku bisa !”
“Tapi, pekerjaan seperti itu serba tidak pasti…yah kalo dimuat di koran, dapat duit. Kalo tidak bagaimana?”jawab istriku tidak mau kalah
“Lain hal dengan pegawai, setiap bulannya jelas pasti mendapatkan gaji, walaupun kecil” sambungnya.
“Aku tidak mau tahu! Tekadku sudah bulat!” Tanganku menggebrak meja. Aku tidak mau diatur oleh siapapun, apalagi istriku.
Sejak saat itu kami sering bertengkar. Aku tetap terjun menulis. Tulisan yang bakal menjadi novel pertamaku.
Entah kenapa tulisan pertamaku terinspirasi sekali dengan keadaan yang sedang kuhadapi. Si tokoh utama kuberi nama Roy. Kuceritakan Roy telah memutuskan untuk beralih dari pekerjaan kantoran ke dunia seni karena tuntutan nuraninya sendiri.
Roy merasa tertekan dalam pekerjaannya dan memutuskan untuk berhenti karena gaji yang dia terima tidak cukup untuk membiayai keluarganya. Istrinya, Ella seorang manajer yang berpenghasilan lebih baik, tidak setuju dengan pendirian suaminya. Dalam tulisan itu, Ella kugambarkan sebagai sosok yang sangat dominan. Suka mengatur, persis sama dengan karakter Elisabeth, istriku.
Kuceritakan juga bagaimana usaha Roy untuk g meyakinkan istrinya, demi sebuah kepercayaan dan dukungan.
Setiap hari, rumah tangga mereka diwarnai pertengkaran yang tak kunjung padam. Ella merasa suaminya hanya bermalas-malasan sementara dia harus bersusah payah. Roy merasa istrinya tidak menghormati dirinya lagi karena dia tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan sudah aku sibuk mengetik. Setiap hari sehabis bangun tidur, aku akan duduk di depan monitor, menyeruput kopi yang kuracik sendiri, untuk kemudian memainkan jemari di tombol keyboard. Pertengkaran dengan Elisabeth pun semakin sering terjadi. Selalu begitu, tidak ada kata absen untuk hal yang satu ini.
“Mas, aku berangkat!” Teriak Elisabeth suatu pagi. Hari itu hari pertama dia dipromosikan menjadi Manajer Pemasaran di perusahaannya. Prestasi yang luar biasa tentunya.
“Yah, udah….hati-hati!” Kuseruput kopi tak peduli. Mataku terus menatap monitor. Karirku sepertinya tak ada apa-apanya dibanding dia. Pekerjaannya mulus ibarat jalan tol.
“Kenapa sih kamu lebih peduli dengan tulisanmu daripada istri dan anakmu?” Ternyata dia masih belum beranjak.
Aku diam, sedang tidak mood untuk bertengkar.
“Apa sih yang kamu harapkan dari novelmu itu?” Ada kesan pongah di dalam nada suaranya.
“Sampai sekarang tidak ada hasilnya….mending Mas cari kerjaan tetap lagi!”
“Aku sudah bilang aku tidak berbakat menjadi karyawan ….aku lebih cocok seperti ini!” ujarku emosi. Aku merasakan egoku sebagai seorang kepala keluarga terusik.
“Ahhh…aku nggak percaya…!”
“Aku juga kadang-kadang bosan dengan kerjaanku, tapi aku coba menikmatinya…dan buktinya aku berhasil. Orang lain juga bisa, cuma Mas aja yang langsung menyerah!”
Aku diam. Kubiarkan dia berkicau. ”Tunggu saja nanti, kamu akan lihat keberhasilanku“ tekadku dalam hati.
Istriku pergi sambil membanting pintu. Aku mulai mengetik lagi, menuliskan ide-ide yang ada dalam otakku.
”Setiap hari Roy semakin tertekan dengan komentar istrinya, tapi ia berjuang terus untuk membuktikan pada semua orang kalau seorang seniman juga bisa punya uang banyak…
Setiap hari, sejak kokok ayam pertama sampai surya terbenam, Roy selalu berada di depan komputernya mencurahkan semua bakat demi satu idealisme tersendiri…” demikian aku terus melanjutkan menulis.
Hari demi hari aku semakin terbawa oleh sosok Roy yang kuciptakan sendiri dalam novel. Sepertinya tokoh itu betul-betul perwujudan diriku yang sebenarnya. Seorang seniman sejati bertemperamen keras. Seorang lelaki yang tidak mau kompromi di bawah ketiak istri. Seorang pria yang tengah menuju kesuksesan besar meski semua orang menentangnya.
Enam bulan lamanya aku seperti kesetanan. Puluhan lembar kertas sudah habis menjadi wadah gagasanku. Tujuanku hanya satu, secepatnya menyelesaikan karya pertamaku ini, biar istriku dan semua orang tahu bahwa aku bisa hidup dari kertas-kertas ini.
Aku makin tidak peduli dengan omelan Elisabeth. Tidak peduli lagi kalau dia makin sering pulang malam dari kantor. Mungkin dia sudah bosan dan mulai melirik laki-laki lain, aku tak ambil pusing. Atau, mungkin sebagai bos besar sekarang dia sudah lupa pada kodratnya. Lupa kepada anak dan suaminya yang lapar. Terserah! Aku tidak peduli. Tidak peduli juga pada rengekan Dewi di kamar yang minta ditemani bermain.
Sampai suatu malam, di bulan keenam saat kepalaku terasa berat dan otakku kehabisan kata-kata untuk mengakhiri novel pertamaku tentang Roy, dari balik tirai jendela aku melihat Elisabeth turun dari sebuah mobil. Sudah lewat tengah malam dan dia baru pulang kerja? Aku baru tersadar.
Seorang laki-laki turun dan membukakan pintu untuknya. Mereka kelihatan mesra sekali di bawah sinar bulan yang suram. Aku merasa seperti dinjak-injak.
Elisabeth masuk, mengambil minuman dan lantas menghampiriku. Aku sudah siap.
“Aku sudah bosan dengan ini semua!” Dia berdiri dengan muka merah.
“Ada apa?” Kucoba menahan amarah. Jemariku masih diatas keyboard.
“Ada apa? hanya itu yang bisa kamu ucapkan?”
“Lihat, kita seperti bukan sebuah keluarga lagi.” Dia mencoba memancing amarahku.
Sepertinya pertengkaran makin memanas.
“Kenapa kamu tidak bersabar dulu, beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bisa membahagiakan kalian?”
“Kesempatan apa? Sudah enam bulan kamu menjadi gembel di depan komputer ini! Mana hasilnya? Belum satu pun karyamu yang memberi hasil!“
Aku menggeram. “Lalu?”
“Sementara aku banting tulang di kantor mencari makan buat memenuhi kebutuhan keluarga dan Dewi anak kita… kamu cuma duduk-duduk… belagak sibuk dengan khayalan dan ide-ide brilianmu.”
“Banting tulang atau bersama laki-laki lain maksudmu?” Emosiku tak terbendung lagi. Aku jelas-jelas tadi melihat istriku bercumbu dengan laki-laki itu sebelum masuk ke rumah.
“Laki-laki mana? Jangan mengada-ada! Rupanya kelamaan bergaul dengan komputer rongsokan membuat otak Mas jadi ngawur! Pokoknya mulai sekarang, aku nggak mau lihat Mas menulis lagi. Titik!” Wajah istriku merah penuh amarah.
Aku gemetar di kursi. Keringat dingin dan amarah bercampur menjadi satu.
“Diam!” Kata itu terlontar begitu saja. Tanganku pun sudah mendarat keras di pipinya.
Elisabeth menjerit. Matanya melotot menatapku, tapi anehnya aku tidak merasa menyesal atas tindakan itu.
Sambil memegangi pipinya, dia berlari menuju lemari, mengeluarkan koper dan mulai mengisinya dengan baju.
“Aku mau bawa Dewi ke rumah mama, sekarang juga!” teriaknya histeris.
“Tidak bisa!” Emosiku sudah tak terkendali lagi.
“Kamu mau bawa Dewi pada laki-laki itu kan?“desisku “tidak bisa!”
Aku tarik bahunya. Kudorong sekuat tenaga hingga kepalanya membentur dinding dengan keras. Tubuh Elisabeth menggelepar sejenak untuk sedetik kemudian terkulai lemas di lantai kamar. Aku terpana. Kuangkat tubuh istriku. Kepalanya bersimbah darah. Aku bawa dia ke kamar tidur. Aku baringkan di atas ranjang, seakan tidak terjadi apa-apa.
Gontai, aku melangkah menuju meja kerja. Sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mulai mengetik.
“…..Roy semakin tidak tahan dengan omelan istrinya yang terang-terangan ingin dia berhenti menulis. Suatu hari saat mereka bertengkar hebat, Roy mendorong istrinya dengan keras. Kepalanya membentur tembok dan ia mati seketika. Roy yakin ia sudah melakukan tindakan yang tepat demi untuk mencegah istrinya yang cantik itu berselingkuh dengan pria lain….”
Aku tersenyum menatap layar monitor. Kuangkat tanganku dari tombol keyboard.
Akhirnya setelah penantian selama enam bulan, malam ini aku berhasil mendapatkan sebuah ending yang bagus untuk mengakhiri novel pertamaku.
Entry Filed under: Cerpen. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
nim | February 15, 2008 at 10:31 am
baguuuuuzs..
gag kalah sama djenar..