Cerpen: Suja
August 18, 2006
oleh Fuadi Ilyas
dimuat di Edisi 7 – Aksara
Surya berlari sambil menangis, menuju gudang di belakang rumah yang telah diubah menjadi kamar dan kini ditempati oleh Suja, sopir keluarga.
”Om Suja… Om Suja, buka pintunya!” Surya berteriak. Ia mengintip dari lubang kunci, tampak cahaya lilin menerangi kamar itu. ”Om Suja…!”
Suara putaran anak kunci terdengar, lalu pintu terbuka. Surya langsung masuk dan memeluk Suja. Tangan Suja mengusap kepala Surya dengan lembut dan membiarkan Surya membasahi pakaian Suja dengan air mata.
Kamar itu agak remang. Angin yang berembus masuk ke dalam menggoyangkan api yang menyala dari sebuah lilin yang lelehannya tampak di batang putih lilin itu. Agar api tidak padam, Suja segera menutup pintu.
”Sudah, anak laki-laki tidak boleh cengeng,” kata Suja. Sebenarnya Suja juga sejak tadi menangis, hampir setengah jam lalu di atas sajadah. Dipeluk Surya, Suja kembali meneteskan air mata dan tetesan itu menyentuh rambut Surya.
”Om Suja juga menangis?” tanya Surya.
Suja segera sadar dan mengusap matanya, ”Tidak. Atap di atas bocor.”
Tiba-tiba ada suara kilat dan guntur, lalu diikuti oleh titik-titik hujan yang terdengar menimpa atap. Suara gerakan daun-daun dari tiga pohon palem besar yang tumbuh di dekat gudang itu dan kini sedang dipermainkan angin juga terdengar.
Suara hujan kedengaran makin lebat.
”Kamu tidur di sini saja!” kata Suja setelah ia melihat Surya berhenti menangis.
Surya mengangguk. Memang itu yang sebenarnya dinginkan Surya. Suja lalu mengangkat tubuh Surya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Lalu lelaki itu menyelimuti tubuh Surya.
”Om Suja, kenapa listriknya tidak dinyalakan?” tanya Surya.
”Om ingin merasakan ketenangan,” kata Suja pelan, ”Sudah, kamu tidur saja agar besok tidak kesiangan.”
Tangan Suja kembali membelai kepala anak itu. Merasakan ketulusan belaian Suja, Surya dengan cepat tertidur. Hujan masih terdengar, walau kini tanpa suara angin yang menderu.
Ini bukan pertama kalinya Surya berlari ke gudang yang ditempati Suja. Jika anak itu dimarahi oleh orang tuanya, ia selalu mengadu pada Suja. Surya menganggap Suja lebih menyayanginya dari pada orang tua Surya sendiri. Ayah dan ibu Surya telah tahu ke mana anak mereka pergi jika sedang ngambek.
Malam makin larut. Suja melepaskan tangannya dari kepala Surya. Ia lalu berdiri dan kembali menuju ke arah sajadah yang terbentang di pojok ruangan. Ia ingin kembali bersujud dalam malam yang hanya ditemani cahaya lilin.
Ia merasa telah melakukan kesalahan, suatu dosa besar.
***
Sebuah sedan berhenti di depan garasi. Hermawan dan istrinya keluar dengan wajah lesu. Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Hermawan segera melemparkan tubuhnya di atas sofa, sedangkan istrinya langsung menuju ke kamar tidur.
Hermawan memandang kehampaan, teringat kata-kata dokter yang baru saja mereka kunjungi. Dokter mengatakan bahwa masalahnya adalah pada Hermawan, bukan istrinya. Dan kini, harapannya untuk mewarisi perusahaan keluarga tidak akan terwujud, padahal Hermawan ingin sekali menjadi pengganti ayahnya.
”Kamu tidak akan memimpin perusahaan keluarga jika kamu tidak memiliki keturunan.” Ayahnya pernah berkata suatu hari pada Hermawan. ”Perusahaan ini akan dikelola adikmu yang perempuan karena dia memiliki anak laki-laki.”
Kini kata-kata ayahnya sepertinya akan terbukti.
”Pak, kunci mobil!” Tiba-tiba suara Suja membuyarkan lamunan Hermawan.
Hermawan memandang ke arah sopirnya, lalu berkata tanpa ekspresi, ”Letakkan di situ, Suja!”
Suja tahu, majikannya sedang ada masalah. Dengan sedikit menunduk ia meletakkan kunci mobil di atas meja depan sofa. Mata Hermawan masih memandang ke arah Suja. Tubuh Suja kelihatan sangat atletis. Tiba-tiba bibir Hermawan tersenyum. Ia seperti mendapatkan ilham.
”Suja!” suara Hermawan terdengar saat Suja mulai melangkah meninggalkan ruang tamu. Suja kemudian berhenti.
”Ya, Pak” Kata Suja.
Mata Hermawan memberi isyarat kepada Suja untuk duduk di sofa.
”Ada apa, Pak?” tanya Suja. Ucapannya sangat sopan.
Hermawan menarik napas panjang, ”Kamu mau menolongku?”
”Saya sudah banyak berutang budi pada Bapak. Bapak telah membantu biaya berobat orang tua saya. Tentu saja saya mau menolong Bapak.”
”Janji?”
Suja menganggukkan kepalanya.
”Janji, Pak!”
”Bagus” Kata Hermawan.
”Apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanya Suja
Hermawan tidak segera menjawab. Ia hanya tersenyum. Ia kini telah membayangkan bahwa perusahaan keluarga akan berada di genggamannya.
***
Surya sering mendengar suara itu. Suara teriakan ayah dan ibunya, suara piring dan barang-barang dibanting, suara pipi ditampar, dan terakhir suara tangis ibunya. Setelah itu biasanya ia akan berlari menuju gudang tempat Suja berada.
Surya akan merasa tenang di sana, tidak seperti di dalam rumahnya sendiri yang megah. Seingat Surya, ia hampir tidak pernah merasakan kasih sayang Hermawan. Yang ia tahu dari ibunya, kini ayahnya sering berada di luar kota untuk mengurusi perusahaan sehingga ia sibuk dan jarang pulang.
Sore itu adalah pertengkaran yang paling hebat setelah Hermawan pulang. Telah hampir seminggu Hermawan berada di luar Jakarta. Surya berada di kursi di sudut ruangan, tangannya memegang majalah anak-anak.
”Aku juga sebenarnya tidak mau, tapi Mas terus memaksa. Katanya ini demi kepentingan keluarga kita,” suara ibunya terdengar keras. ”Tapi mana buktinya, sekarang Mas lupa diri.”
Ibunya keluar dari kamar, diikuti ayahnya.
”Aku kan sudah mencukupi semua keperluanmu dan Surya,” jawab Hermawan, ”Kalian tidak pernah kekurangan apa-apa, kan? Yang perlu kalian lakukan hanya diam. Titik!”
”Bukan cuma harta yang kita butuhkan, Mas.”
”Lalu apa?”
Suara ibunya makin keras terdengar, juga suara ayahnya. Surya tidak kuat lagi. Ia lalu berlari ke belakang rumah. Di sana ia bertemu Suja yang sedang duduk di kursi kayu. Lelaki itu pasti telah mendengar pertengkaran kedua majikannya.
Surya lalu menangis di pelukan Suja. Suja segera menuntun Surya ke gudang agar anak itu tidak lebih lama lagi mendengar suara pertengkaran orang tuanya. Tapi suara barang-barang yang dibanting terus terdengar. Sambil berlalu, sepintas Suja mendengar suara tangisan ibu Surya. Tangisan yang memilukan.
Suja lagi-lagi merasa sangat bersalah.
Suja menyuruh Surya untuk berbaring di tempat tidur. Anak itu memejamkan mata, mencoba melupakan suara keributan yang baru saja didengar. Di tempat ini, bersama Suja, Surya merasa sangat tenang sehingga tak lama kemudian ia tertidur pulas.
Melihat Surya terlelap, Suja lalu berjongkok dan menarik sebuah tas besar yang berada di kolong tempat tidur. Ia membuka lemari dan memasukkan pakaiannya satu persatu ke dalam tas itu. Ia juga membereskan beberapa barang lain dan memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam.
Setelah selesai, Suja menatap ke arah Surya. Ia berjalan mendekati anak itu. Tangan Suja kemudian mengusap rambut Surya dan akhirnya mencium keningnya. Suja meletakkan bantal guling di dekat tubuh Surya yang terlelap dan merapikan selimut yang menutupi badan anak itu.
Suja melangkah menjauhi Surya dan pelahan membuka pintu gudang agar suaranya tidak membangunkan tidur Surya yang lelap. Tubuh Suja lalu menghilang di balik pintu.
Angin malam itu seolah berhenti berembus.
***
Surya terbangun dari tidurnya di pagi hari. Ia melihat sekeliling yang kosong. Pasti Suja berada di luar gudang atau di depan garasi sedang membersihkan mobil, pikir Surya. Mulutnya memanggil Suja sekali, tapi tak ada suara sahutan yang terdengar.
Surya melihat ke lemari yang pintunya terbuka. Didekatinya lemari itu. Kosong. Tiba-tiba ia memiliki firasat yang aneh. Raut wajahnya menampakkan kegusaran. Tak lama kemudian ia berlari keluar dan menyebut nama Suja dengan sangat keras. Air mata menetes dari kedua matanya.
Waktu berganti. Surya hidup dalam kesendirian. Pertengkaran antara kedua orang tuanya memang mulai reda, tapi ia makin jarang melihat ayahnya berada di rumah. Begitu pun dengan ibunya yang seolah tidak peduli dengan keberadaan ayahnya.
Surya masih saja ingat Suja. Surya ingat saat-saat Suja mengantarkannya ke sekolah, menyayanginya saat ayah memarahinya, tidur di samping tubuh Suja yang hangat. Surya pernah sekali bermimpi bertemu Suja yang kemudian mengajaknya berjalan-jalan ke pantai sambil mencari kelomang.
Beberapa tahun kemudian saat Surya berumur 16 tahun, sewaktu Surya sedang melukis, ibunya datang mendekatinya. Wanita itu tampak ragu pada awalnya, tapi akhirnya dari mulutnya keluar kata-kata.
”Surya, kamu kangen dengan Om Suja?” tanya ibunya.
”Tentu saja!” jawab Surya, ”Sekarang di mana dia, Bu?” wajah Surya tiba-tiba berubah cerah.
Ibunya diam, lalu berkata.
”Mari kita lihat! dia ada di rumah sakit.”
Surya dan ibunya segera menuju ke rumah sakit. Mereka masuk ke ruangan kelas tiga yang berada di bagian paling ujung. Surya teringat kembali gudang belakang rumah yang menjadi tempat Suja. Beberapa tahun setelah Suja pergi, Surya masih sering tidur di tempat itu, membayangkan Suja berada di sana.
Surya dan ibunya berhenti di dekat tempat tidur yang berada di sudut ruangan.
Surya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kini badan Suja menjadi sangat kurus. Surya tampak ragu-ragu, apakah orang ini benar-benar Suja.
”Kau rupanya,” mata Suja menatap ke arah Ibu Surya. ”Apakah ini Surya?”
Wanita itu mengangguk.
”Kamu sekarang tampan sekali, Surya.” Air mata membasahi pipi Suja. Tampaknya wajah lelaki itu memancarkan kebahagiaan.
Surya hanya diam mematung, tak tahu apa yang harus dilakukan setelah sekian lama tak bertemu dengan orang yang dulu sangat disayanginya. Pandangan Surya tak bisa lepas dari Suja. Mulut Surya ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tak mampu.
Mata Suja mengarah ke ibu Surya. Wanita itu diam dan bibirnya gemetar. Tak lama kemudian wanita itu melihat anggukan dari wajah Suja.
”Surya,” ibunya berkata, ”Ciumlah tangan ayah kandungmu!”
Surya menatap ke arah ibunya, lalu berbalik ke arah Suja. Wajah Surya kelihatan sangat bingung.
”Ibu…!”
”Iya,” kata ibunya pelan, ”Dialah ayah kandungmu.” Wajah ibunya menoleh ke samping. Ada air yang sepintas terlihat di sudut matanya.
Tanpa ragu Surya lalu memeluk tubuh yang kurus itu sambil menangis. Tangan Suja pelahan terangkat, lalu turun dan menyentuh kepala Surya. Ia mengusap kepala itu, seperti dulu.
______________________________________________________________________________
Hamzah Fuadi Ilyas, Guru yang berpendidikan sastra Inggris, mengajar Bahasa Inggris. Karya yang pernah terbit: Novel Mata Mutiara (Mediakita 2006), Cerpen ”A Friend of The Wind” (The Jakarta Post, 2005).
Entry Filed under: Cerpen. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed