<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Imajio</title>
	<atom:link href="http://imajio.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imajio.wordpress.com</link>
	<description>Majalah Sastra dan Seni</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Mar 2008 10:33:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='imajio.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Imajio</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://imajio.wordpress.com/osd.xml" title="Imajio" />
	<atom:link rel='hub' href='http://imajio.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cerpen: Dalam Kuyup Gerimis</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen-dalam-kuyup-gerimis/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen-dalam-kuyup-gerimis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2007 23:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen-dalam-kuyup-gerimis/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Y Wibisono dimuat di edisi 1 &#8211; Imajio &#8220;AKU tak bisa, Bram. Sungguh. Senin pagi aku harus siap di sana. Atau, aku harus mengulang tahun depan. Kamu tahu kan, aku ..&#8221; Suara beningnya terhenti ketika aku memegang bahunya lembut. “Demi aku Na, demi aku.” Matanya menatap lurus padaku, seperti sebuah kilauan sinar yang mencoba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=20&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Y Wibisono<br />
dimuat di edisi 1 &#8211; Imajio</p>
<p><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/kuyup-gerimis.jpg" title="Kuyup Gerimis"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/kuyup-gerimis.thumbnail.jpg?w=455" alt="Kuyup Gerimis" align="left" border="0" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;AKU tak bisa, Bram. Sungguh. Senin pagi aku harus siap di sana. Atau, aku harus mengulang tahun depan. Kamu tahu kan, aku ..&#8221; Suara beningnya terhenti ketika aku memegang bahunya lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Demi aku Na, demi aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Matanya menatap lurus padaku, seperti sebuah kilauan sinar yang mencoba mencari sesuatu dalam cerukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Aku tawarkan begini. Kamu tetap ikut reuni di rumah Ketut, dan besok paginya kau sudah di sana.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Aku akan menemanimu besok ke Surabaya, jam berapa pun kau mau!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Lagi-lagi kilauan sinar itu menerpa mataku. Aku berusaha tenang, meski sungguh aku gelisah ketika mata itu menyorotku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Janji ya?”</span></p>
<p><span id="more-20"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ia menyodorkan kelingkingnya, dan segera kusambut. Kelingking kami saling bertaut. Ini cara berjanji yang umum dilakukan, sejak bertahun lalu ketika kami bagian dari kelompok remaja sebuah SMA. Wina teman satu kelasku ketika di SMA dulu. Meski ada penjurusan, kami selalu satu kelas sampai kelas tiga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Angin malam mulai menusuk. Musim di Trenggalek selalu begini. Meski siang panas, tapi malam dipenuhi angin dingin yang membekukan tulang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Tiket ke Balikpapan sudah beres?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Sudah, penerbangan pertama.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Angin dingin menampar wajah kami. Pelan tanganku menyentuh rambutnya yang berayun ditiup angin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Sampai di Samarinda jangan lupa telpon. Kirimi juga beberapa foto Mahakam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Tentu. Tapi telpon dan alamat di Rungkut, belum dikasih?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ia menolehkan wajahnya padaku, lagi kilauan bening itu menerpaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Aku nggak mau ngasih sekarang. Besok malam kau kan ikut. Sebenarnya aku memang ingin kau sempatkan mampir di Surabaya, sebelum kembali ke Kalimantan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Kugenggam tangannya, dan menikmati wajahnya yang lembut. Di reuni pertama dulu, kami tak sedekat ini. O, lelaki yang tak pandai membaca keindahan. Kenapa harus setelah sekian lama? Wina bersamaku selama tiga tahun di SMA. Dan selama itu, kami hanya berteman. Aku berpacaran dengan adik kelas. Dan Wina? Ya ampun, aku bahkan tak tahu Wina punya pacar atau tidak. Ia kutu buku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“WINA jadi datang?” sergap Joko ketika aku baru masuk rumahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Yoi. Dengan perjanjian.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Kulepas jaket dan menyambar keripik pisang di meja. Aku memang terbiasa di rumah ini sejak SMA. Ini salah satu ‘markas’ kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Aku harus menemani ke Surabaya besok. Terpaksa. Kasihan, malam-malam perempuan naik bis sendirian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Lagakmu. Itu kan yang kamu mau?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aku hanya menyeringai merasakan tinjunya di lenganku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">DUA tahun lalu, kami bertemu di reuni pertama. Sebuah reuni sederhana di rumah Wiwik, seorang teman yang menikah selepas SMA. Kami memang bersepakat untuk reuni setiap dua tahun, khusus kelas kami. Wina kuliah kedokteran di Surabaya. Sementara aku, setelah selesai diploma informatika di Malang, merantau ke Samarinda. Bekerja di perusahaan perkayuan sambil kuliah lagi di ekonomi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ketertarikanku pada hal-hal medis serta rasa penasaran Wina pada rimba Kalimantan, mendekatkan kami. Bahwa pemikiran Wina cerdas, aku sudah tahu dari dulu. Tapi sungguh aku baru menyadari bahwa matanya indah. Seperti ada telaga teduh, tapi dalam sekejap berubah sinar berpendaran ketika ia berbicara penuh semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Hei, dilarang selingkuh ya?” Wiwik, tuan rumah yang ramah menggoda kami. Aku hanya tersenyum sambil melirik Wina. Siapa selingkuh? Apakah Wina telah .. Ah, tak penting. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">KEHIDUPAN selalu menciptakan jarak baru, bahkan untuk sekedar berkumpul. Kawan yang datang di rumah Ketut tak sebanyak ketika reuni pertama. Beberapa tak bisa datang meski sudah mengusahakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Acara hampir dimulai, saat aku masuk menggandeng Wina. Beberapa kawan berbisik melihat kami. Joko ternyata telah datang lebih dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Tuan rumah membuka acara, dilanjutkan beberapa kawan. Aku menjadi salah satu yang harus berkisah. Rupanya, aku tetap menjadi satu-satunya orang rimba. Mereka tak pernah bosan mendengar bualanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Hutan-hutan di sana tak seseram yang kita bayangkan. Kebanyakan telah menjadi bukit-bukit gundul atau ladang belukar. Binatang buas tak ada di sana. Kecuali beruang madu, ular sanca, dan orangutan yang ramah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Masa nggak ada harimau?” protes Agus, nampak penasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Nggak ada. Yang ada paling kucing liar. Mungkin macan dahan ada, tapi jarang. Yang justru takkan terlupakan adalah sungai Mahakam. Sungai ini membelah kota Samarinda menjadi dua bagian. Di malam hari, air sungai memantulkan cahaya lampu-lampu kota ..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ketika kusebut Mahakam, kulihat sekilas mata Wina berbinar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Acara semakin meriah ketika seorang teman berkisah tentang proses pernikahannya. Beberapa kawan yang lajang begitu bersemangat mendengarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Satu-satunya perhatianku saat ini adalah Wina. Kuajak dia ke salah satu sudut ruangan. Dari sini, kami bisa memandang ke semua meja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Wajah di sebelahku nampak teduh, meski terlihat lelah. Aku tahu, sebelum kujemput ia pasti telah berkemas untuk nanti malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Apakah aku kekasih Wina? Aku terkejut dengan pikiran itu. Dulu, ketika SMA, teman-teman selalu mengawali pacaran dengan sebuah kata sacral, ‘jadian’. Lalu setelah itu ada ‘putusan’. Dan biasanya kata itu terus berulang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aku melirik ke sebelah. Meski tatapnya ke arah ruangan, tapi kurasakan ia merenungkan sesuatu yang tak kutahu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Hubungan ini begitu lekas sekaligus begitu lama. Tanpa perlu sebuah kata awal. Lekas, karena kami akrab hanya di dua kali reuni, dan kebersamaan dalam beberapa hari. Lama, karena sebenarnya wajah teduh ini telah kukenal sejak tujuh</span><span>  </span>tahun lalu. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Berangkat jam berapa nanti?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ia nampak kaget, lalu menoleh ke arahku hingga wajah kami berdekatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Dari rumah jam 2.30. Rencanaku begini. Kamu menunggu di Durenan. Kemungkinan bis sampai di sana jam 3.00. Kuharap kau sudah siap di sana.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Rencana yang menarik!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Kenapa tidak berangkat bareng dari rumahmu saja?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Wajahnya memerah. Aku tahu, itu tak mungkin. Tempat tinggal Wina adalah daerah yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai. Tak pantas, seorang pria menginap di rumah wanita yang bukan saudaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Tak enak sama orang rumah. Tapi aku sudah bilang, bahwa seorang teman akan menungguku di Durenan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Seorang teman?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Iya. Emang apa?” Cubitannya di paha cukup keras, tapi hatiku berdendang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Terus, aku akan memakai<em> sweater</em> putih, duduk di sebelah kiri. Aku akan ambil bangku nomor dua, di pinggir. Jika tak dapat, aku ambil di nomor tiga dan seterusnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Rencana yang matang. Wajah teduh ini ternyata pandai juga membuat rencana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Yang seperti ini dipelajari juga di kedokteran?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Lagi-lagi aku dapat cubitan kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">SAMPAI di rumah jam 12 malam. Aku masih punya dua setengah jam untuk istirahat. Aku memilih tidur di sofa ruang tamu. Pada ibuku aku berpesan agar membangunkanku tepat pukul 2.30, kukatakan aku akan menemani seorang teman ke Surabaya. Di rumah tak ada beker, tapi ibu selalu sholat malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Meski amat mengantuk, aku tetap tak bisa melupakan harum rambutnya. Juga sebuah pelukan yang segera kami lepas selekas suara kaki kakak Wina yang menyambut. Bayangan wajahnya amat teduh, tersenyum sesaat sebelum aku terlelap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">SESEORANG membangunkanku. Ibu. Beliau sudah siap berangkat ke mesjid. Astaga, ini sudah subuh!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Ibu pikir kamu sudah berangkat. Kamarmu kosong. Ibu lupa kamu tidur di sini. Susul saja temanmu, mungkin bisa ketemu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aku tak begitu mendengar kata ibu. Seperti terbang aku ke kamar mandi. Membasahi muka, dan dengan kecepatan yang sama berlari ke perhentian bis. Jalan kecil di gang ini gelap, tapi aku hapal detilnya. Aku berlari seperti panah. Sebuah bis yang baru bergerak kukejar. Seperti binatang aku menerkam pintu belakang yang terbuka dan menabrak kondektur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ibu, aku memang belum pernah menjelaskan siapa teman yang akan bersamaku ke Surabaya. Tuhan, aku harus menyalahkan siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Bis ini pasti telah berjalan kencang seperti umumnya bis malam hari. Tapi bagiku amat lamban. Aku gelisah. Di setiap terminal aku meloncat turun, lalu naik lagi. Aku berharap ada seorang gadis memakai <em>sweater</em> putih menungguku di salah satu terminal. Di bis hanya ada tiga penumpang. Empat denganku. Mereka memperhatikanku. Mungkin terganggu, tapi siapa peduli?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Pohon-pohon sepanjang jalan seolah menyoraki kebodohanku. Seorang gadis menempuh perjalanan sepanjang 180 km malam hari. Menaiki bis malam yang umumnya berpenumpang pria. Wanita lain aku tak peduli. Tapi ini Wina, Winaku! Aku ingin menjerit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">MEMASUKI terminal Purabaya, gerimis turun. Awan hitam bergulung. Tapi hatiku lebih pekat dari itu. Aku meloncat dari bis dengan tatapan binatang hutan. Calo dan preman terminal nampak tak tertarik padaku. Apa yang bisa mereka harap dari pria kumal sepertiku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aku berjalan dengan mata yang terus mengawasi setiap sudut. Di mana kau Na? Jantungku berdegup ketika seseorang berbaju putih nampak di salah satu bangku tunggu. Nafasku memburu. Ya Tuhan, akhirnya ..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Gadis itu menoleh saat aku hampir menyentuhnya. Astaga. Gadis ini berbaju putih, tapi jelas bukan Wina. Ia terheran memandangiku. Aku meringis pilu menatapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aku kembali ke perhentian bis dan menyisir ulang lorong terminal dengan pikiran bergumpal, apa yang akan dilakukan seorang gadis yang kecewa, marah ketika turun dari bis. Mungkin langsung naik angkutan lain. Atau, akankah ia duduk di suatu tempat, menungguku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Gerimis semakin rintik. Tubuhku basah. Tapi hatiku telah membasah sejak tadi. Mengutuki diri. Apa susahnya tidak tidur hingga jam 3 pagi, untuk seseorang yang mungkin akan mengisi hidupku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Sebuah bangku kosong menawarkanku duduk. Aku pasti berandalan tak berguna bagi Wina. Bukankah dari dulu Bramantyo hanya seorang pecundang? Gerimis semakin deras membasahi halaman terminal Purabaya. Seperti air suci menyiram altar pengadilan. Dan seorang pesakitan telah pasrah pada nasib. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku tak punya alamatnya di Surabaya. Bisa saja mencari informasi ke rumah keluarganya, tapi buru-buru kutepis. Ketiduran? Alasan itu hanya cocok untuk seorang pecundang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Wina akan menganggapku seorang pengecut di sepanjang hidupnya. Itu setimpal untukku. Minggu depan aku sudah di Samarinda. Seorang pecundang, kembali ke perantauan lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Kuusap mukaku, basah dan kotor. Tak ada air mata di sana. Tapi, Tuhan tahu, hatiku terisak menangis. []</span></p>
<p style="border-color:0 0 windowtext;border-style:none none solid;border-width:medium medium 1.5pt;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Y. Wibisono</span></em></strong><em><span style="font-size:11pt;">: Menyelesaikan pendidikan di Diploma Pemrograman Komputer UNIBRAW Malang dan Fakultas Ekonomi UNTAG Samarinda. Bekerja di bidang Teknologi Informasi. Aktif menulis dalam bidang TI, ekonomi, sosial-politik dan sastra. Sebagian besar tulisannya dipublikasikan secara online. Karyanya bersama-sama penulis lain terbit dalam buku Antologi Sastra Pembebasan (Damar Warga, 2004). Tergabung dalam komunitas APSAS (<a href="mailto:apresisasi-sastra@yahoogroups.com" title="mailto:apresisasi-sastra@yahoogroups.com"><span style="color:windowtext;">apresisasi-sastra@yahoogroups.com</span></a>). Karya puisi dan cerpennya pernah menjadi salah satu pemenang dalam kegiatan apresiasi di komunitas tersebut.</span></em></p>
<p style="border-color:0 0 windowtext;border-style:none none solid;border-width:medium medium 1.5pt;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=20&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen-dalam-kuyup-gerimis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/kuyup-gerimis.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kuyup Gerimis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cover: Edisi 7 &#8211; Aksara</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2006/08/18/cover-edisi-7-aksara/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2006/08/18/cover-edisi-7-aksara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Aug 2006 23:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cover-edisi-7-aksara/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=18&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara7.jpg" title="Cover Aksara 7"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara7.jpg?w=455" alt="Cover Aksara 7" align="absmiddle" border="0" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=18&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2006/08/18/cover-edisi-7-aksara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Aksara 7</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Suja</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2006/08/18/cerpen/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2006/08/18/cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Aug 2006 17:58:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Fuadi Ilyas dimuat di Edisi 7 &#8211; Aksara Surya berlari sambil menangis, menuju gudang di belakang rumah yang telah diubah menjadi kamar dan kini ditempati oleh Suja, sopir keluarga. ”Om Suja… Om Suja, buka pintunya!” Surya berteriak. Ia mengintip dari lubang kunci, tampak cahaya lilin menerangi kamar itu. ”Om Suja…!” Suara putaran anak kunci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=13&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Fuadi Ilyas<br />
dimuat di Edisi 7 &#8211; Aksara</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilus-cerpen-suja.jpg" title="Suja"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilus-cerpen-suja.thumbnail.jpg?w=455" alt="Suja" align="left" border="0" /></a><span style="font-size:11pt;">Surya berlari sambil menangis, menuju gudang di belakang rumah yang telah diubah menjadi kamar dan kini ditempati oleh Suja, sopir keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Om Suja… Om Suja, buka pintunya!” Surya berteriak. Ia mengintip dari lubang kunci, tampak cahaya lilin menerangi kamar itu. ”Om Suja…!” </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suara putaran anak kunci terdengar, lalu pintu terbuka. Surya langsung masuk dan memeluk Suja. Tangan Suja mengusap kepala Surya dengan lembut dan membiarkan Surya membasahi pakaian Suja dengan air mata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Kamar itu agak remang. Angin yang berembus masuk ke dalam menggoyangkan api yang menyala dari sebuah lilin yang lelehannya tampak di batang putih lilin itu. Agar api tidak padam, Suja segera menutup pintu.</p>
<p><span id="more-13"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Sudah, anak laki-laki tidak boleh cengeng,” kata Suja. Sebenarnya Suja juga sejak tadi menangis, hampir setengah jam lalu di atas sajadah. Dipeluk Surya, Suja kembali meneteskan air mata dan tetesan itu menyentuh rambut Surya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Om Suja juga menangis?” tanya Surya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suja segera sadar dan mengusap matanya, ”Tidak. Atap di atas bocor.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Tiba-tiba ada suara kilat dan guntur, lalu diikuti oleh titik-titik hujan yang terdengar menimpa atap. Suara gerakan daun-daun dari tiga pohon palem besar yang tumbuh di dekat gudang itu dan kini sedang dipermainkan angin juga terdengar. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suara hujan kedengaran makin lebat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Kamu tidur di sini saja!” kata Suja setelah ia melihat Surya berhenti menangis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya mengangguk. Memang itu yang sebenarnya dinginkan Surya. Suja lalu mengangkat tubuh Surya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Lalu lelaki itu menyelimuti tubuh Surya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Om Suja, kenapa listriknya tidak dinyalakan?” tanya Surya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Om ingin merasakan<span>  </span>ketenangan,” kata Suja pelan, ”Sudah, kamu tidur saja agar besok tidak kesiangan.” </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Tangan Suja kembali membelai kepala anak itu. Merasakan ketulusan belaian Suja, Surya dengan cepat tertidur. Hujan masih terdengar, walau kini tanpa suara angin yang menderu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Ini bukan pertama kalinya Surya berlari ke gudang yang ditempati Suja. Jika anak itu dimarahi oleh orang tuanya, ia selalu mengadu pada Suja. Surya menganggap Suja lebih menyayanginya dari pada orang tua Surya sendiri. Ayah dan ibu Surya telah tahu ke mana anak mereka pergi jika sedang <em>ngambek</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Malam makin larut. Suja melepaskan tangannya dari kepala Surya. Ia lalu berdiri dan kembali menuju ke arah sajadah yang terbentang di pojok ruangan. Ia ingin kembali bersujud dalam malam yang hanya ditemani cahaya lilin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Ia merasa telah melakukan kesalahan, suatu dosa besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;">***</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Sebuah sedan berhenti di depan garasi. Hermawan dan istrinya keluar dengan wajah lesu. Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Hermawan segera melemparkan tubuhnya di atas sofa, sedangkan istrinya langsung menuju ke kamar tidur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Hermawan memandang kehampaan, teringat kata-kata dokter yang baru saja mereka kunjungi. Dokter mengatakan bahwa masalahnya adalah pada Hermawan, bukan istrinya. Dan kini, harapannya untuk mewarisi perusahaan keluarga tidak akan terwujud, padahal Hermawan ingin sekali menjadi pengganti ayahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Kamu tidak akan memimpin perusahaan keluarga jika kamu tidak memiliki keturunan.” Ayahnya pernah berkata suatu hari pada Hermawan. ”Perusahaan ini akan dikelola adikmu yang perempuan karena dia memiliki anak laki-laki.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Kini kata-kata ayahnya sepertinya akan terbukti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Pak, kunci mobil!” Tiba-tiba suara Suja membuyarkan lamunan Hermawan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>   </span><span>         </span>Hermawan memandang ke arah sopirnya, lalu berkata tanpa ekspresi, ”Letakkan di situ, Suja!” </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suja tahu, majikannya sedang ada masalah. Dengan sedikit menunduk ia meletakkan kunci mobil di atas meja depan sofa. Mata Hermawan masih memandang ke arah Suja. Tubuh Suja kelihatan sangat atletis. Tiba-tiba bibir Hermawan tersenyum. Ia seperti mendapatkan ilham. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Suja!” suara Hermawan terdengar saat Suja mulai melangkah meninggalkan ruang tamu. Suja kemudian berhenti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Ya, Pak” Kata Suja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Mata Hermawan memberi isyarat kepada Suja untuk duduk di sofa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Ada apa, Pak?” tanya Suja. Ucapannya sangat sopan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Hermawan menarik napas panjang, ”Kamu mau menolongku?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Saya sudah banyak berutang budi pada Bapak. Bapak telah membantu biaya berobat orang tua saya. Tentu saja saya mau menolong Bapak.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Janji?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suja menganggukkan kepalanya. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">”Janji, Pak!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Bagus” Kata Hermawan. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanya Suja</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Hermawan tidak segera menjawab. Ia hanya tersenyum. Ia kini telah membayangkan bahwa perusahaan keluarga akan berada di genggamannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;">***</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya sering mendengar suara itu. Suara teriakan ayah dan ibunya, suara piring dan barang-barang dibanting, suara pipi ditampar, dan terakhir suara tangis ibunya. Setelah itu biasanya ia akan berlari menuju gudang tempat Suja berada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya akan merasa tenang di sana, tidak seperti di dalam rumahnya sendiri yang megah. Seingat Surya, ia hampir tidak pernah merasakan kasih sayang Hermawan. Yang ia tahu dari ibunya, kini ayahnya sering berada di luar kota untuk mengurusi perusahaan sehingga ia sibuk dan jarang pulang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Sore itu adalah pertengkaran yang paling hebat setelah Hermawan pulang. Telah hampir seminggu Hermawan berada di luar Jakarta. Surya berada di kursi di sudut ruangan, tangannya memegang majalah anak-anak. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Aku juga sebenarnya tidak mau, tapi Mas terus memaksa. Katanya ini demi kepentingan keluarga kita,” suara ibunya terdengar keras. ”Tapi mana buktinya, sekarang Mas lupa diri.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Ibunya keluar dari kamar, diikuti ayahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Aku kan sudah mencukupi semua keperluanmu dan Surya,” jawab Hermawan, ”Kalian tidak pernah kekurangan apa-apa, kan? Yang perlu kalian lakukan hanya diam. Titik!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Bukan cuma harta yang kita butuhkan, Mas.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Lalu apa?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suara ibunya makin keras terdengar, juga suara ayahnya. Surya tidak kuat lagi. Ia lalu berlari ke belakang rumah. Di sana ia bertemu Suja yang sedang duduk di kursi kayu. Lelaki itu pasti telah mendengar pertengkaran kedua majikannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya lalu menangis di pelukan Suja. Suja segera menuntun Surya ke gudang agar anak itu tidak lebih lama lagi mendengar suara pertengkaran orang tuanya. Tapi suara barang-barang yang dibanting terus terdengar. Sambil berlalu, sepintas Suja mendengar suara tangisan ibu Surya. Tangisan yang memilukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suja lagi-lagi merasa sangat bersalah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suja menyuruh Surya untuk berbaring di tempat tidur. Anak itu memejamkan mata, mencoba melupakan suara keributan yang baru saja didengar. Di tempat ini, bersama Suja, Surya merasa sangat tenang sehingga tak lama kemudian ia tertidur pulas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Melihat Surya terlelap, Suja lalu berjongkok dan menarik sebuah tas besar yang berada di kolong tempat tidur. Ia membuka lemari dan memasukkan pakaiannya satu persatu ke dalam tas itu. Ia juga membereskan beberapa barang lain dan memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Setelah selesai, Suja menatap ke arah Surya. Ia berjalan mendekati anak itu. Tangan Suja kemudian mengusap rambut Surya dan akhirnya mencium keningnya. Suja meletakkan bantal guling di dekat tubuh Surya yang terlelap dan merapikan selimut yang menutupi badan anak itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Suja melangkah menjauhi Surya dan pelahan membuka pintu gudang agar suaranya tidak membangunkan tidur Surya yang lelap. Tubuh Suja lalu menghilang di balik pintu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Angin malam itu seolah berhenti berembus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;">***</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya terbangun dari tidurnya di pagi hari. Ia melihat sekeliling yang kosong. Pasti Suja berada di luar gudang atau di depan garasi sedang membersihkan mobil, pikir Surya. Mulutnya memanggil Suja sekali, tapi tak ada suara sahutan yang terdengar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya melihat ke lemari yang pintunya terbuka. Didekatinya lemari itu. Kosong. Tiba-tiba ia memiliki firasat yang aneh. Raut wajahnya menampakkan kegusaran. Tak lama kemudian ia berlari keluar dan menyebut nama Suja dengan sangat keras. Air mata menetes dari kedua matanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Waktu berganti. Surya hidup dalam kesendirian. Pertengkaran antara kedua orang tuanya memang mulai reda, tapi ia makin jarang melihat ayahnya berada di rumah. Begitu pun dengan ibunya yang seolah tidak peduli dengan keberadaan ayahnya. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya masih saja ingat Suja. Surya ingat saat-saat Suja mengantarkannya ke sekolah, menyayanginya saat ayah memarahinya, tidur di samping tubuh Suja yang hangat. Surya pernah sekali bermimpi bertemu Suja yang kemudian mengajaknya berjalan-jalan ke pantai sambil mencari kelomang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Beberapa tahun kemudian saat Surya berumur 16 tahun, sewaktu Surya sedang melukis, ibunya datang mendekatinya. Wanita itu tampak ragu pada awalnya, tapi akhirnya dari mulutnya keluar kata-kata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Surya, kamu kangen dengan Om Suja?” tanya ibunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Tentu saja!” jawab Surya,<span>  </span>”Sekarang di mana dia, Bu?” wajah Surya tiba-tiba berubah cerah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Ibunya diam, lalu berkata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">”Mari kita lihat! dia ada di rumah sakit.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya dan ibunya segera menuju ke rumah sakit. Mereka masuk ke ruangan kelas tiga yang berada di bagian paling ujung. Surya teringat kembali gudang belakang rumah yang menjadi tempat Suja. Beberapa tahun setelah Suja pergi, Surya masih sering tidur di tempat itu, membayangkan Suja berada di sana.<span>   </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya dan ibunya berhenti di dekat tempat tidur yang berada di sudut ruangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kini badan Suja menjadi sangat kurus. Surya tampak ragu-ragu, apakah orang ini benar-benar Suja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Kau rupanya,” mata Suja menatap ke arah Ibu Surya. ”Apakah ini Surya?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Wanita itu mengangguk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Kamu sekarang tampan sekali, Surya.” Air mata membasahi pipi Suja. Tampaknya wajah lelaki itu memancarkan kebahagiaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya hanya diam mematung, tak tahu apa yang harus dilakukan setelah sekian lama tak bertemu dengan orang yang dulu sangat disayanginya. Pandangan Surya tak bisa lepas dari Suja. Mulut Surya ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tak mampu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Mata Suja mengarah ke ibu Surya. Wanita itu diam dan bibirnya gemetar. Tak lama kemudian wanita itu melihat anggukan dari wajah Suja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Surya,” ibunya berkata, ”Ciumlah tangan ayah kandungmu!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Surya menatap ke arah ibunya, lalu berbalik ke arah Suja. Wajah Surya kelihatan sangat bingung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Ibu…!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>”Iya,” kata ibunya pelan, ”Dialah ayah kandungmu.” Wajah ibunya menoleh ke samping. Ada air yang sepintas terlihat di sudut matanya.</p>
<p class="MsoBodyText"><span></span><span> </span><span>           </span>Tanpa ragu Surya lalu memeluk tubuh yang kurus itu sambil menangis. Tangan Suja pelahan terangkat, lalu turun dan menyentuh kepala Surya. Ia mengusap kepala itu, seperti dulu. </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">______________________________________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;color:black;">Hamzah Fuadi Ilyas</span></em></strong><span style="font-size:11pt;color:black;">, Guru yang berpendidikan sastra Inggris, mengajar Bahasa Inggris. Karya yang pernah terbit: Novel <em>Mata Mutiara</em> (Mediakita 2006), Cerpen ”A Friend of The Wind” (<em>The Jakarta Post</em>, 2005).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;color:black;"> </span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=13&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2006/08/18/cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilus-cerpen-suja.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Suja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cover: Edisi 6 &#8211; Aksara</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2006/03/18/cover-edisi-6-aksara/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2006/03/18/cover-edisi-6-aksara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Mar 2006 18:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2006/03/18/cover-edisi-6-aksara/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=24&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara6.jpg" title="Cover Aksara 6"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara6.jpg?w=455" alt="Cover Aksara 6" border="0" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=24&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2006/03/18/cover-edisi-6-aksara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Aksara 6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Cerita Seorang Penulis</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2006/03/18/cerpen-cerita-seorang-penulis/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2006/03/18/cerpen-cerita-seorang-penulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Mar 2006 17:51:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen-cerita-seorang-penulis/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Rommy Tambunan dimuat di Edisi 6 &#8211; Aksara Tiba-tiba aku tersadar kalau aku punya bakat untuk menulis. Senang sekali rasanya berlama-lama di depan komputer. Mencurahkan semua ide di dalam kepala ditemani secangkir kopi manis. Bakat terpendam yang kuyakin telah berakar sejak kecil tetapi baru tergali sekarang ini sampai-sampai bahkan telah mengalahkan loyalitasku sebagai karyawan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=10&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Rommy Tambunan<br />
dimuat di Edisi 6 &#8211; Aksara</p>
<p><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilus-cerpen-cerita-penulis.jpg" title="Cerita Seorang Penulis"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilus-cerpen-cerita-penulis.thumbnail.jpg?w=455" alt="Cerita Seorang Penulis" align="left" border="0" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Tiba-tiba aku tersadar kalau aku punya bakat untuk menulis. Senang sekali rasanya berlama-lama di depan komputer. Mencurahkan semua ide di dalam kepala ditemani secangkir kopi manis. Bakat terpendam yang kuyakin telah berakar sejak kecil tetapi baru tergali sekarang ini sampai-sampai bahkan telah mengalahkan loyalitasku sebagai karyawan sebuah perusahaan asuransi. Aku rela memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang kuanggap tidak berprospek cerah dan banting setir menjadi seorang penulis <em>full-time</em>. Bicara tentang bidang seni sebenarnya bukanlah barang baru buatku. Sejak duduk di bangku TK, sejumlah penghargaan di bidang seni pernah kuraih. Aku pernah menjadi juara pertama melukis se-TK di kotaku. Di Sekolah Dasar, saat anak-anak seumurku masih bermain petak umpet, aku sudah sibuk ikut lomba mengarang. Tepuk tangan dan pujian kagum akan selalu ada setiap kali aku tampil di depan kelas. Membacakan puisi atau pun melakoni seorang tokoh dalam pelajaran drama adalah kesukaanku. Aku tidak mengerti kenapa saat SMA, semua kemampuan itu seakan lenyap ditelan bumi. Konsentrasiku penuh hanya pada pelajaran sekolah dan buku-buku teks. Saat itu hanya ada kata tiada hari tanpa belajar dan tiada waktu untuk seni. Otakku hanya terobsesi untuk satu tujuan, memenuhi harapan orang tua. Melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal.</span></p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Sekarang setelah bekerja dan menikah dengan Elisabeth, yang kukenal saat kuliah dulu, tiba-tiba nuraniku berontak. Kerinduan untuk kembali menekuni dunia yang pernah kukenal itu kembali terkuak. Mulanya aku mencoba bertahan pada pekerjaan di kantor yang penuh dengan rutinitas dan tekanan. Setahun dua tahun kulalui dengan berhemat dan menabung habis-habisan. Setelah menikah dan punya anak, persoalan menjadi lain. Gaji yang pas pasan dengan status yang tidak jelas sebagai staf kontrak</span><span>  </span>membuat hatiku ketar-ketir. Untuk menjadi staf permanen susah luar biasa. Maklum sekarang budayanya orang bekerja bukan <em>under company</em>, tetapi <em>under agency</em>. Karyawan dipaksa bekerja mati-matian dengan gaji tidak penuh. Sebagian persenan dipotong lebih dulu oleh para agen. Kuatir dipecat sewaktu-waktu karena kebijakan manajemen membuat aku mengambil keputusan hengkang. Argumen lain adalah realita jati diri sendiri. Sebagai seorang <em>melankholik introvert</em>, aku lebih senang mengurung diri untuk menulis atau melukis di rumah daripada harus bekerja keras setiap hari memenuhi target perusahaan. Untuk melamar lagi rasanya mustahil karena terbentur usia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Adalah satu keuntungan, istriku punya pekerjaan dan jabatan yang sangat bagus. Sebagai seorang supervisor sebuah perusahaan advertising, ia memang seorang wanita yang dilahirkan untuk berkarir. Seorang tipikal pemimpin yang lebih pantas memimpin agenda rapat dan <em>meeting</em> dengan klien ketimbang harus berepot ria di dapur dan<span>  </span>memeras cucian. Walaupun begitu Elisabeth, tentunya sangat menopang kehidupan kami dan si kecil, Dewi. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Istriku adalah orang pertama yang sangat menentang keputusanku untuk fokus menjadi seorang penulis. Ia marah besar begitu tahu aku berhenti bekerja untuk memenuhi impianku itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Tenang, Beth …aku tahu apa yang kulakukan,” jelasku</span><span>  </span>dingin. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Tenang bagaimana, Mas juga ingat dong mana ada orang bisa mengandalkan hidup dari hasil tulisan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Lho, kan banyak juga pengarang yang bisa terkenal dan hidup makmur!“Aku siap berdebat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Yah, itu kan cuman satu dari sekian banyak orang yang sukses”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku yakin aku bisa !”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Tapi, pekerjaan seperti itu serba tidak pasti…yah kalo dimuat di koran, dapat duit. Kalo tidak bagaimana?”jawab istriku tidak mau kalah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Lain hal dengan pegawai, setiap bulannya jelas pasti mendapatkan gaji, walaupun kecil” sambungnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku tidak mau tahu! Tekadku sudah bulat!” Tanganku menggebrak meja. Aku tidak mau diatur oleh siapapun, apalagi istriku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sejak saat itu kami sering bertengkar. Aku tetap terjun menulis. Tulisan yang bakal menjadi novel pertamaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Entah kenapa tulisan pertamaku terinspirasi sekali dengan keadaan yang sedang kuhadapi. Si tokoh utama kuberi nama Roy. Kuceritakan Roy telah memutuskan untuk beralih dari</span><span>  </span>pekerjaan kantoran ke dunia seni karena tuntutan nuraninya sendiri. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Roy merasa tertekan dalam pekerjaannya dan memutuskan untuk berhenti karena gaji yang dia terima tidak cukup untuk membiayai keluarganya. Istrinya, Ella seorang manajer yang berpenghasilan lebih baik, tidak setuju dengan pendirian suaminya</span></em><span style="font-size:11pt;">. Dalam tulisan itu, Ella kugambarkan sebagai sosok yang sangat dominan. Suka mengatur, persis sama dengan karakter Elisabeth, istriku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Kuceritakan juga bagaimana usaha Roy untuk g meyakinkan istrinya, demi sebuah kepercayaan dan dukungan<em>. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-size:11pt;">Setiap hari, rumah tangga mereka diwarnai pertengkaran yang tak kunjung padam. Ella merasa suaminya hanya bermalas-malasan</span><span>  </span>sementara dia harus bersusah payah. Roy merasa istrinya tidak menghormati dirinya lagi karena dia tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span>            </span>Seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan sudah aku sibuk mengetik. Setiap hari sehabis bangun tidur, aku akan duduk di depan monitor, menyeruput kopi yang kuracik sendiri, untuk kemudian memainkan jemari di tombol keyboard. Pertengkaran dengan Elisabeth pun semakin sering terjadi. Selalu begitu, tidak ada kata absen untuk hal yang satu ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span> </span>“Mas, aku berangkat!” Teriak Elisabeth suatu pagi. Hari itu hari pertama dia dipromosikan menjadi Manajer Pemasaran di perusahaannya. Prestasi yang luar biasa tentunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span> </span>“Yah, udah….hati-hati!” Kuseruput kopi tak peduli. Mataku terus menatap monitor. Karirku sepertinya tak ada apa-apanya dibanding dia. Pekerjaannya mulus ibarat jalan tol. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kenapa sih kamu lebih peduli dengan tulisanmu daripada istri dan anakmu?” Ternyata dia masih belum beranjak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aku diam, sedang tidak <em>mood</em> untuk bertengkar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Apa sih yang kamu harapkan dari novelmu itu?” Ada kesan pongah di dalam nada suaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Sampai sekarang tidak ada hasilnya….mending Mas cari kerjaan tetap lagi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku sudah bilang aku tidak berbakat menjadi karyawan ….aku lebih cocok seperti ini!” ujarku emosi. Aku merasakan egoku sebagai seorang kepala keluarga terusik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Ahhh&#8230;aku nggak percaya…!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku juga kadang-kadang bosan dengan kerjaanku, tapi aku coba menikmatinya…dan buktinya aku berhasil. Orang lain juga bisa, cuma Mas aja yang langsung menyerah!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku diam. Kubiarkan dia berkicau. ”Tunggu saja nanti, kamu akan lihat keberhasilanku“ tekadku dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Istriku pergi sambil membanting pintu. Aku mulai mengetik lagi, menuliskan ide-ide yang ada dalam otakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">”Setiap hari Roy</span><span>  </span>semakin tertekan dengan komentar istrinya, tapi ia berjuang terus untuk membuktikan pada semua orang kalau seorang seniman juga bisa punya uang banyak…</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Setiap hari, sejak kokok ayam pertama sampai surya terbenam, Roy selalu berada di depan komputernya mencurahkan semua bakat demi satu idealisme tersendiri…”</span></em><span style="font-size:11pt;"> demikian aku terus melanjutkan menulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Hari demi hari aku semakin terbawa oleh sosok Roy yang kuciptakan sendiri dalam novel. Sepertinya tokoh itu betul-betul perwujudan diriku yang sebenarnya. Seorang seniman sejati bertemperamen keras. Seorang lelaki yang tidak mau kompromi di bawah ketiak istri. Seorang pria yang tengah menuju kesuksesan besar meski semua orang menentangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Enam bulan</span><span>  </span>lamanya aku seperti kesetanan. Puluhan lembar kertas sudah habis menjadi wadah gagasanku. Tujuanku hanya satu, secepatnya menyelesaikan karya pertamaku ini, biar istriku dan semua orang tahu bahwa aku bisa hidup dari kertas-kertas ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aku makin tidak peduli dengan omelan Elisabeth. Tidak peduli lagi kalau dia makin sering pulang malam dari kantor. Mungkin dia sudah bosan dan mulai melirik laki-laki lain, aku tak ambil pusing. Atau, mungkin sebagai bos besar sekarang dia sudah lupa pada kodratnya. Lupa kepada anak dan suaminya yang lapar. Terserah! Aku tidak peduli. Tidak peduli juga pada rengekan Dewi di kamar yang minta ditemani bermain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Sampai suatu malam, di bulan keenam saat kepalaku terasa berat dan otakku kehabisan kata-kata untuk mengakhiri novel pertamaku tentang Roy, dari balik tirai jendela aku melihat Elisabeth turun dari sebuah mobil. Sudah lewat tengah malam dan dia baru pulang kerja? Aku baru tersadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Seorang laki-laki turun dan membukakan pintu untuknya. Mereka kelihatan mesra sekali di bawah sinar bulan yang suram. Aku merasa seperti dinjak-injak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span> </span>Elisabeth masuk, mengambil minuman dan lantas menghampiriku. Aku sudah siap. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku sudah bosan dengan ini semua!” Dia berdiri dengan muka merah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span> </span>“Ada apa?” Kucoba<span>  </span>menahan amarah. Jemariku masih diatas keyboard.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Ada apa? hanya itu yang bisa kamu ucapkan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Lihat, kita seperti bukan sebuah keluarga lagi.” Dia mencoba memancing amarahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sepertinya pertengkaran makin memanas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kenapa kamu tidak bersabar dulu, beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bisa membahagiakan kalian?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kesempatan apa? Sudah enam bulan kamu menjadi gembel di depan komputer ini! Mana hasilnya? Belum satu pun karyamu yang memberi hasil!“</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku menggeram. “Lalu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Sementara aku banting tulang di kantor mencari makan buat memenuhi kebutuhan keluarga dan Dewi anak kita… kamu cuma duduk-duduk… belagak sibuk dengan khayalan dan ide-ide brilianmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">“Banting tulang atau bersama laki-laki lain maksudmu?” Emosiku tak terbendung lagi. Aku jelas-jelas tadi melihat istriku bercumbu dengan laki-laki itu sebelum masuk ke rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Laki-laki mana? Jangan mengada-ada! Rupanya kelamaan bergaul dengan komputer rongsokan membuat otak Mas jadi <em>ngawur</em>! Pokoknya mulai sekarang, aku nggak mau lihat Mas menulis lagi. Titik!” Wajah istriku merah penuh amarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku gemetar di kursi. Keringat dingin dan amarah bercampur menjadi satu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Diam!” Kata itu terlontar begitu saja. Tanganku pun sudah</span><span>  </span>mendarat keras di pipinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Elisabeth menjerit. Matanya melotot menatapku, tapi anehnya aku tidak merasa menyesal atas tindakan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sambil memegangi pipinya, dia berlari menuju lemari, mengeluarkan koper dan mulai mengisinya dengan baju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku mau bawa Dewi ke rumah mama, sekarang juga!” teriaknya histeris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Tidak bisa!” Emosiku sudah tak terkendali lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kamu mau bawa Dewi pada laki-laki itu kan?“desisku “tidak bisa!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku tarik bahunya. Kudorong sekuat tenaga hingga kepalanya membentur dinding dengan keras. Tubuh Elisabeth menggelepar sejenak untuk sedetik kemudian terkulai lemas di lantai kamar. Aku terpana. Kuangkat tubuh istriku. Kepalanya bersimbah darah. Aku bawa dia ke kamar tidur. Aku baringkan di atas ranjang, seakan tidak terjadi apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Gontai, aku melangkah menuju meja kerja. Sepertinya aku tahu apa yang harus</span><span>  </span>kulakukan. Aku mulai mengetik. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">“…..Roy semakin tidak tahan dengan omelan istrinya yang terang-terangan ingin dia berhenti menulis. Suatu hari saat mereka bertengkar hebat, Roy mendorong istrinya dengan keras. Kepalanya membentur tembok dan ia mati seketika. Roy yakin ia sudah melakukan tindakan yang tepat demi untuk mencegah istrinya yang cantik itu berselingkuh dengan pria lain….”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku tersenyum menatap layar monitor. Kuangkat tanganku dari tombol <em>keyboard</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Akhirnya setelah penantian selama enam bulan, malam ini aku berhasil mendapatkan sebuah <em>ending</em> yang bagus untuk mengakhiri novel pertamaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=10&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2006/03/18/cerpen-cerita-seorang-penulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilus-cerpen-cerita-penulis.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cerita Seorang Penulis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cover Aksara 5</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2005/08/18/cover-aksara-5/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2005/08/18/cover-aksara-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2005 18:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2005/08/18/cover-aksara-5/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=26&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara5.jpg" title="Cover Aksara 5"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara5.jpg?w=455" alt="Cover Aksara 5" border="0" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=26&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2005/08/18/cover-aksara-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Aksara 5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Kabut Hitam</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2005/08/18/cerpen-kabut-hitam/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2005/08/18/cerpen-kabut-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2005 17:46:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen-kabut-hitam/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Fia Rosa dimuat di Edisi 5 &#8211; Aksara Samar-samar terdengar suara adzan dari mesjid. Seperti biasanya Lusia sudah terbangun jauh sebelum itu. Sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pukul dua atau tiga pagi karena dia harus menyiapkan makanan ringan yang akan dijajakan di kota. Sebentar-sebentar mata Lusia singgah pada Ririn, gadis kecilnya yang masih tidur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=6&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Fia Rosa<br />
dimuat di Edisi 5 &#8211; Aksara</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilustrasi-kabut-hitam.jpg" title="Kabut Hitam"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilustrasi-kabut-hitam.thumbnail.jpg?w=455" alt="Kabut Hitam" align="left" border="0" /></a><span style="font-size:11pt;">Samar-samar terdengar suara adzan dari mesjid. Seperti biasanya Lusia sudah terbangun jauh sebelum itu. Sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pukul dua atau tiga pagi karena dia harus menyiapkan makanan ringan yang akan dijajakan di kota. Sebentar-sebentar mata Lusia singgah pada Ririn, gadis kecilnya yang masih tidur lelap. Ririn terlena oleh tidur manisnya. Lusia senang melihatnya kala tidur, wajahnya begitu polos seakan tanpa dosa. Ririn begitu membuat Lusia semangat memperjuangkan beratnya kehidupan. Parno, suami Lusia, masih terlena di pembaringan yang sama dengan Ririn, putrinya.</span></p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Semenjak perkawinan mereka, Lusia terbiasa melakukan segala pekerjaan rumah tangga maupun mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Lusialah tumpuan hidup keluarga selama ini sedangkan</span><span>  </span>Parno hanyalah seorang pengangguran. Mereka menikah pada usia yang masih dini. Umur Lusia saat itu empat belas tahun dan Parno lima tahun lebih tua. Lusia buru-buru dikawinkan karena Simbah, nenek yang mengasuhnya selama ini, merasa ketakutan kalau kelak Lusia menjadi seorang perawan tua. Perkawinan dini di desa mereka memang sangat wajar. Lusia menikah dengan Parno sebagai hasil perjodohan yang dilakukan oleh Simbah dengan bantuan seorang mak comblang. Bagi Lusia tiada pilihan selain menurut apa yang disarankan neneknya. Lusia sudah menganggap Simbah sebagai orang tuanya sendiri. Sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal semenjak Lusia masih bayi karena sebuah bencana alam yang menimpa daerah mereka. Simbah bukanlah orang kaya. Ia hidup hanya mengandalkan penghasilannya dengan menjadi buruh tani pada seorang juragan tembakau di desa mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Hasil jerih payah Lusia berdagang selama ini hanya mampu mencukupi kebutuhan harian mereka. Terkadang Lusia dapat menyisihkan beberapa ribu rupiah yang biasa disimpannya di bawah kasur tempat tidur. Suaminya tak mengetahui hal itu. Lusia berharap dengan uang yang disisihkan sedikit demi sedikit itu kelak bisa dipergunakan untuk membeli sebidang tanah. Selain itu Lusia mempunyai impian untuk menyekolahkan Ririn agar dia tak mengalami penderitaan seperti yang dialaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Lusiaaa.lus..lusia!” Terdengar teriakan Parno memanggil. &#8220;Ada apa, Mas?&#8221; tanya Lusia sambil terburu-buru menghampiri. &#8220;Siapkan air panas, aku mau mandi. Hari ini aku akan pergi ke kota, ada urusan penting!&#8221; Lusia terbengong-bengong mendengar suaminya berbicara. Tak biasanya ia pergi ke kota, tapi dia coba untuk tidak berprasangka buruk. &#8220;Jangan lupa beri aku uang untuk modal, aku ingin mencari kerja,&#8221; kata Parno lagi. &#8220;Kerja apa yang Mas akan lakukan di kota ?&#8217; tanya Lusia ingin tahu. &#8220;Sudah! Nggak usah banyak tanya. Kau lakukan saja apa yang kuperintahkan!&#8221; jawab Parno dengan nada keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dengan sedikit perasaan kesal, Lusia bergegas meninggalkan Parno dan menyiapkan segalanya. Lusia takut dikatakan sebagai istri yang durhaka. Jadi, Lusia tak pernah menolak apapun permintaan suaminya. Sebelum berangkat menjajakan dagangan, Lusia menitipkan Ririn kepada Simbah yang kebetulan tinggal di sebelah rumah. Lusia menghampiri suaminya yang sudah tampak rapi. Parno duduk di ruang tamu dan menghisap rokok sambil menikmati kopi panasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Mas, ini uang yang Mas butuhkan. Jumlahnya ada enam puluh ribu rupiah. Tolong dipergunakan dengan baik ya, Mas!&#8221; pesan Lusia untuk mengingatkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Mas mau pergi ke mana ?” tanya Lusia lagi,&#8221;Nanti malam pulang kan, Mas?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Hmm,&#8221;gumam Parno. Tak satu pun pertanyaan Lusia dijawabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Malam mulai merambat, tapi Parno tak kunjung pulang. Sebagai istri, Lusia selalu mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada Parno. Lusia mencoba untuk tetap menenangkan diri dengan mencari kesibukan mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti biasanya sepulang berdagang Lusia akan menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan Ririn, anak semata wayangnya. Kini Ririn mulai tumbuh besar dan sebentar lagi dia akan masuk sekolah. Pada pukul sembilan malam, rasa kantuk Lusia tak tertahankan lagi. Parno belum juga datang. Lusia dan Ririn</span><span>  </span>akhirnya tertidur lelap karena rasa letih setelah seharian beraktifitas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Subuh tiba. Saat terbangun dari tidur, Lusia masih tak mendapati Parno di rumah. Ia tidak pulang. Seperti biasa Lusia menyiapkan barang jualannya dan membawanya ke kota. Menjelang sore Lusia sudah tiba di rumah. Hari itu terlihat Parno sudah pulang. Tubuhnya tampak lusuh tak seperti saat ketika berangkat ke kota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Lus, lihat nih! Bagaimana menurutmu si Jantan ini. Oh ya, uang yang kau berikan kemarin kupergunakan untuk membeli si Centil ini. Ingat, Centil namanya, yah! Kau harus memperlakukannya dengan baik karena dia akan membawa keberuntungan bagi kita.&#8221; Parno berkata dengan penuh semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Astagafirulloh hal adzimm.&#8221; Hancur rasanya hati Lusia melihat uang yang didapatkan dengan susah payah selama ini hanya dipergunakan untuk membeli binatang itu. Tak sepatah kata pun diucapkan Lusia. Dia begitu kesal kepada suaminya. Dengan terburu-buru ditinggalkannya Parno di halaman rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setiap minggu kemudian, hampir selalu Parno mengungkapkan hal yang sama, meminta uang untuk pergi ke kota. Lama kelamaan Lusia kesal juga. Bahkan sering kali Parno tak pulang hingga berhari-hari. Kini jika Lusia menolak untuk memberi uang, Parno tak segan-segan main tangan. Bahkan di depan anak mereka pun Parno tak peduli. Pada suatu siang, ketika menjajakan dagangannya di kota, Lusia melihat dengan mata kepalanya Parno sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang perempuan cantik di dekat komplek pelacuran. Sebelumnya memang pernah terdengar berita tentang kebiasaan Parno di kota dari para tetangga Lusia. Bahkan seorang kawan Parno yang kebetulan baik kepada Lusia juga pernah memberitahu. Tapi, Lusia tak peduli dengan berita itu karena ia tak pernah melihatnya sendiri. Dan kali ini Tuhan benar-benar membukakan mata Lusia. Yah, Lusia benar-benar menyaksikan kebenaran berita itu. Perasaan Lusia bagaikan disambar petir, hancur berkeping-keping.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tanpa menghiraukan jualannya yang masih banyak Lusia bergegas pulang. Sesampainya di rumah Lusia menghitung seluruh uang jerih payahnya selama ini. Buru-buru Lusia mendatangi Simbah yang saat itu sedang berbaring di emperan rumah. Lusia mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk berbincang panjang lebar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sebenarnya Lusia sangat malu menceritakan perihal rumah tangganya kepada orang lain meskipun kepada neneknya yang selama ini sebagai pengganti kedua orang tuanya. Dengan berat hati akhirnya diceritakannya apa yang sedang terjadi terhadapnya, juga perihal kelakuan Parno. Dengan segala pertimbangan akhirnya Lusia menitipkan seluruh uangnya kepada Simbah. Lusia sangat bangga kepada Simbah. Meskipun mereka sangat miskin dan tak pernah mengenyam bangku pendidikan tapi Simbah selalu menghargai Lusia dan bijaksana dalam menghadapi suatu masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sore itu Parno pulang ke rumah. Raut mukanya kelihatan tidak cerah. Lusia menghindari percakapan panjang dengannya. Ketika saatnya makan malam, Lusia</span><span>  </span>membujuk Parno untuk makan bersama dan dia tak menolak ajakan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Lus, besok aku ke kota lagi, ada salah satu kawan yang menawari bisnis bersama,&#8221; kata Parno. &#8220;Aku membutuhkan modal tambahan kali ini. Boleh kan kupinjam dulu padamu? Nanti kalau berhasil akan kukembalikan dengan bunga. Terserah kau, mau minta bunga berapa,” katanya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Semenjak kejadian yang dilihatnya siang itu Lusia mulai berani mengambil sikap tegas terhadap suaminya. &#8220;Mas Parno, aku minta maaf, akhir-akhir ini daganganku tak begitu laku sehingga hasil yang kuperoleh pun tak seperti dulu. Hanya cukup buat belanja untuk makan dan membeli susu Ririn,&#8221; sahut Lusia perlahan. &#8220;Omong kosong!&#8221; bentak Parno sebelum Lusia selesai berbicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Aku tak mau tahu apapun alasanmu! Besok pagi-pagi sekali uang itu harus sudah ada di atas meja ini. Kalau tidak, lihat saja nanti!” bentak Parno dengan nada mengancam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Malam itu terjadilah pertengkaran di antara mereka. Tangisan Ririn yang ketakutan tak dihiraukan Parno. Bahkan ia tak segan-segan menampar, memukul, dan menendang Lusia di depan anaknya. Lusia berusaha kabur dari rumah tapi Parno mengancam akan memotong leher Lusia jika ia berusaha keluar. Lusia begitu ketakutan. Keesokan harinya, seperti biasa Lusia pergi berjualan ke kota dan saat itu ia meninggalkan rumah lebih awal dari biasanya, kebetulan</span><span>  </span>Parno masih tertidur pulas. Lusia menitipkan Ririn kepada Simbah tanpa menceritakan apapun tentang kejadian yang menimpanya semalam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Di sepanjang perjalanan Lusia menangis membayangkan kejadian semalam. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi menghadapi suaminya. Ulah Parno semakin menjadi-jadi: memeras uang, bahkan menyiksa Lusia ketika bertengkar. Hampir setiap malam Lusia tak bisa tidur nyenyak karena terlalu memikirkan Parno. Tubuhnya pun kini semakin kering dibandingkan beberapa bulan yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Alhamdulillah. Daganganku hari ini bisa terjual semua,” gumam Lusia. Siang hari dia sudah bisa pulang. Di tengah perjalanan pulang Lusia berjumpa dengan Lilik dan Ritha yang sedang asyik memperbincangkan seorang kawannya yang baru saja kembali dari luar negeri. Mereka berdua adalah teman akrab Lusia yang selama ini berjualan sayur-sayuran. Terlihat Lilik begitu antusias untuk mengikuti jejak temannya itu. Katanya bekerja di luar negeri sangat enak dan gajinya pun jutaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Bener lho, Lus. Kamu, kalau nggak percaya, boleh datang kekampungku. Tetangga sebelahku yang baru kembali dari Hong Kong itu, pulang benar-benar jadi jutawan di kampungku. Bahkan, Pak Kades saja kalah. Kamu tahu, nggak? Dia itu pulang bawa uang buaaanyak sekali. Sekarang rumahnya sudah direnovasi menjadi megah. Genteng rumahnya itu mahal, belum lagi tegelnya yang kinclong. Seluruh perabotan rumahnya serba canggih: ada televisi, kulkas, kipas angin, dan sepeda motor. Perhiasannya pun buaagus-buagus. Siapa yang nggak ngiri tho, Lus?&#8221; kata Lilik menggebu-gebu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mendengar cerita itu, lama-lama Lusia jadi tergiur juga dengan ajakan Lilik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Lusia, kalau kamu mau, kita bisa berangkat bersama-sama, lho. Aku kenal seorang sponsor yang sering membawa calon TKI ke PT-nya. Tapi, kita harus mengeluarkan biaya sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk proses awal dan yang lain bisa dicicil nanti setelah kita mulai gajian. Lumayan tho, Lus.Orang semacam kita ini mana bisa dapet gaji jutaan di sini? Apa nggak sama dengan gajinya Pak Presiden. Ya, nggak, Lus? &#8221; kata Lilik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Tapi, Mbakyu, bagaimana mungkin kita dapat kerja ke luar negeri, sedang aku nggak bisa apa-apa. Di luar negeri itu bahasanya kan lain dengan bahasa kita. Bahasa Inggris saja aku nggak ngerti!&#8221; komentar Lusia dengan agak pesimis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Wes tho..wes tho..ndak usah mumet, nanti kan diajari semua di PT,&#8221; kata Lilik bersemangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Dirimu enak, Mbakyu. Nggak ada yang ditanggung, Lha, kalau aku pergi siapa dong yang akan mengurus Ririn?&#8221; keluh Lusia memikirkan nasib Ririn yang masih kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Kan ada bapaknya, atau kamu titipkan aja sama Simbahnya. Kelak kalau sudah kerja dan dapet bayaran, yang penting jangan lupa kirim untuk Simbah, kan yo beres tho urusan!&#8221; tutur Lilik merayu Lusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Kupikir-pikir betul juga ya idemu itu, Mbakyu. Kau ini memang benar-benar pinter, Mbakyu!&#8221; puji Lusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Siang itu sejenak pikiran Lusia terlepas dari pikiran tentang keadaan rumah</span><span>  </span>setelah bertemu dengan<span>  </span>Lilik. Sesampainya di rumah didapatinya Parno masih tertidur juga. Segera Lusia beranjak keluar menjemput Ririn yang dititipkan di rumah Simbah. Sekembaliku ke rumah, Parno sudah tidak ada di tempat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Ah, mungkin dia sudah pergi ke luar atau sedang mandi,&#8221; pikir Lusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tiba-tiba terlihat sosok Parno keluar dari arah dapur. Badannya kelihatan segar dengan butir-butir air yang masih menempel di dadanya yang setengah terbuka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8221; Lus, mana uang yang kuminta semalam ?&#8221; tanya Parno dengan tiba-tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Mas, tidakkah kau mengerti apa yang kuucapkan kemarin?” jawab Lusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Sudah! kau tidak usah berpura-pura. Aku harus pergi ke kota!&#8221; bentak Parno tanpa menghiraukan perkataan Lusia. &#8220;Memang kau pikir aku ini mesin pembuat uang gitu tho, Mas?” jawab Lusia dengan nada kesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Kamu sudah berani melawan suami, ya! Terus kau kemanakan uang hasil daganganmu selama ini? Kamu di kota berselingkuh dengan pria lain, ya?” Mulai Parno membentak Lusia. Lusia sangat kesal melihat sikap Parno. Pertengkaran hebat pun terulang lagi. Hampir sekujur tubuh Lusia membiru dihajar habis-habisan oleh Parno. Hari itu semua uang hasil dagangan yang tersimpan di rumah dirampas oleh Parno. Kemudian ia pergi entah ke mana. Lusia semakin malu pada tetangga sekelilingnya yang sering mendengar pertengkaran di antara mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dalam kesedihan dan rasa sakit Lusia teringat dengan perkataan Lilik tadi siang. Akhirnya Lusia memutuskan untuk menitipkan Ririn kepada Simbah. Diceritakannya semua yang baru saja terjadi. Lusia juga menceritakan tentang rencananya untuk pergi keluar negeri. Simbah mulai meneteskan air mata mendengar penderitaan Lusia. Ia hanya bisa memberi semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Nduk, kalau itu sudah menjadi tekatmu, nenek tidak bisa mencegahmu. Nenek tidak mampu berbuat apa-apa untukmu. Kamu harus pandai menjaga diri dan hati-hati bekerja di perantauan! Jangan lupa sujud pada Gusti Allah,&#8221; katanya dengan suara parau. “Nenek hanya bisa membantumu merawat anakmu, Ririn. Kamu tidak usah khawatirkan dia di perantauan nanti!” kata Simbah sambil mengelus Ririn dalam pelukannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kepergian Lusia ke luar negeri tanpa seijin dan sepengetahuan Parno. Lusia menemui Lilik dengan membawa bekal sebagian uang yang dititipkannya kepada Simbah. Hati Lusia terasa berat meninggalkan Ririn serta kampung halamannya. Dua hari kemudian Lusia dan Lilik berangkat menuju Jakarta dengan bantuan seorang sponsor yang menguruskan segala dokumen yang dibutuhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tiga bulan lamanya Lusia menunggu di penampungan PT sebelum diberangkatkan ke Hong Kong. Selama itu Lusia sering merindukan Ririn serta memikirkan Simbah. Kesibukan yang dilakukan selama di penampungan membuat Lusia lambat laun dapat melupakan kenangan kampung halaman. Banyak aktifitas dilakukan di penampungan. Lusia belajar dan melakukan praktek berbagai hal yang akan mendukung kerja di luar negeri, seperti belajar bahasa Inggris, bahasa Cina, merawat bayi dan orang jompo, memasak, bersih-bersih rumah serta belajar bagaimana mengoperasikan peralatan yang serba asing baginya. Seratus orang lebih jumlah mereka semua yang tinggal di penampungan itu. Mereka berasal dari wilayah yang berbeda-beda di pulau Jawa. Usia serta status mereka pun sangat bervariasi, namun mereka semua merasakan bagaikan sebuah keluarga besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Di Hong Kong Lusia sangat beruntung mendapatkan seorang majikan yang sangat baik hati. Meskipun digaji di bawah standar, Lusia diberikan libur setiap minggu. Tugas Lusia sehari-hari adalah menjada seorang anak berusia empat tahun dan nenek berusia enam puluhan. Nenek yang dipanggil Bobo itu begitu menyayangi Lusia karena kelincahannya bekerja serta kesabarannya merawat mereka. Tak jarang saat Lusia hendak mengambil libur dia memberi uang jajan. Saat libur, Lusia sering bertemu dengan teman-teman sesama TKW Indonesia. Biasanya mereka menghabiskan waktu bersama sambil berbagi rasa dengan teman- teman di Taman Victoria. Kadang kala mereka menghabiskan waktu libur bersama pergi piknik ke pantai atau pun yamcha di restoran Cina. Setiap dua minggu sekali Lusia tak lupa mengirimkan khabar kepada Simbah. Tapi, setengah tahun terakhir ini Lusia tak pernah mengirimkan khabar. Lusia tak tahu apa yang terjadi di sana, setelah terakhir kali mengirimkan uang lima belas juta untuk biaya hidup mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Selama kepergian Lusia, ia tak pernah memberi khabar kepada suaminya. Simbah mengatakan Parno sering pulang dengan menggandeng perempuan. Parno mengetahui anaknya tinggal bersama Simbah, tapi dia tak tahu tentang kepergian Lusia ke luar negeri. Dan, tak sekali pun dia berani menanyakan keberadaan Lusia kepada Simbah. Dia bersikap seolah-olah tak pernah punya anak dan istri. Kini Lusia mencoba melupakan segala masalah di kampung halaman. Lusia tahu anaknya dalam masa pertumbuhan dan dia begitu membutuhkan kasih sayang. Tapi, Lusia merasa segan untuk kembali ke kampung halaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Enam tahun sudah Lusia meninggalkan Indonesia, juga suaminya. Sebagai seorang manusia dewasa walau telah mencoba untuk melupakan segalanya, tapi perasaan merindukan belaian kasih sayang seorang laki-laki terus datang menghantuinya. Beberapa minggu yang lalu saat Lusia sedang berlibur di Star Ferry, Lusia berkenalan dengan Ranjiv, seorang laki-laki keturunan Pakistan. Dia pun seorang muslim. Entah mengapa Lusia begitu mengaguminya walau hanya beberapa waktu baru mengenalnya. Dia gagah, baik hati, sabar, serta romantis. Umurnya sekitar tiga puluh lima tahun, namun dia kelihatan lebih muda dari usia yang sebenarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kini hampir setiap libur Lusia menghabiskan waktu bersamanya: belanja, berpesta dengan teman-temannya, terkadang pergi menonton film atau bahkan hanya menghabiskan waktu di kontrakannya. Ranjiv membelikan Lusia sebuah handphone. Katanya biar mudah dihubungi. Setiap hari Ranjiv selalu menelpon Lusia, bahkan lima hingga tujuh kali. Menjelang tidur dia tidak pernah lupa</span><span>  </span>mengirim sebuah SMS. “Lusia ..my darling good night, sweet dream..and I love you so much, honey!” begitulah pesannya. Perasaan Lusia terasa melayang jauh ke angkasa membaca smsnya, apalagi mendengar suaranya yang lembut. Lusia<span>  </span>membayangkan wajah Ranjiv yang mirip dengan artis India yang pernah ditontonnya sewaktu masih di Indonesia. Entah kenapa Lusia merasakan kedamaian berada disisinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Oh, Tuhanku.salahkah aku bila mencintainya? Apakah ini yang dinamakan puber kedua? Atau, aku sudah gila dan buta mata melihat dunia ini?” Berbagai pertanyaan muncul di hati Lusia. Bila Ranjiv tidak menelepon, Lusia selalu mencemaskannya. Dia ingin mencari di mana keberadaannya. Meskipun Lusia</span><span>  </span>baru mengenalnya, tapi dia merasa sudah dekat dengannya. Kisah percintaan Lusia selama ini tak pernah diketahui oleh majikannya. Lusia selalu menyembunyikannya dengan baik karena majikannya tidak mengijinkan Lusia<span>  </span>berpacaran dengan siapa pun. Bahkan, dia pernah mengancam jika Lusia<span>  </span>ketahuan berpacaran dan berani membawa laki-laki masuk ke rumahnya, dia tak akan segan mem-phk Lusia dan memulangkannya ke Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Akhirnya diam-diam sebelum visanya habis, Lusia dan Ranjiv memutuskan untuk menikah di mesjid Wanchai dengan beberapa orang kawannya menjadi saksi perkawinan itu. Semua itu dilakukan Lusia tanpa sepengetahuan Simbah, bahkan Parno. Tapi, Lusia sudah menceritakan kepada Ranjiv kalau ia telah berkeluarga di Indonesia dan mempunyai seorang anak. Ranjiv tak mempermasalahkan hal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Di saat majikannya semua keluar, seringkali Ranjiv datang menemui Lusia di bawah flat tempatnya bekerja. Lusia pun seringkali mencuri waktu untuk berjumpa dengannya saat Lusia hanya berduaan dengan anak yang diawasinya. Kadang kala anak itu memergoki Lusia sedang berduaan dengan Ranjiv. Anak asuhnya itu semula ketakutan melihat Ranjiv dengan warna kulitnya yang hitam tapi tak sekalipun dia berani melaporkan kepada orang tuanya karena dia takut Lusia pulang ke Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setahun setelah pernikahan mereka, Lusia mulai merasakan keanehan pada diri Ranjiv. Dia jadi sering mengendap-endap bertandang ke rumah majikan Lusia untuk meminta uang, bahkan meminta makan. Lusia mulai heran dengan sikapnya. Terkadang jika tak diberi uang, dia akan menunggui Lusia berjam-jam di bawah flat dan menelpon Lusia berkali-kali. Hal itu membuat Lusia merasa risih. Lusia sangat ketakutan. “Bagaimana jika akhirnya majikanku tahu dan aku dipecat? Habislah riwayatku,” pikir Lusia. Lusia meminta Ranjiv agar tidak sering datang menjumpainya, tapi dia menolak. Ranjiv berkata bisnisnya sedang hancur dan tak sedolar pun uang dimilikinya kecuali mengharapkan pemberian Lusia sedang visa tinggalnya di Hong Kong sudah habis dan ia harus keluar- masuk</span><span>  </span>Hong Kong. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sebulan sudah setelah terakhir kalinya Ranjiv meminta uang tiga ribu dollar kepada Lusia dengan alasan memperbarui visa ke Shenzhen. Ranjiv menghilang tanpa khabar berita. Kadang kala Lusia mencari tahu keberadaannya dari kawan-kawannya. Mereka semua mengatakan sudah lama tak pernah berjumpa dengan Ranjiv.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setiap malam Lusia selalu berdoa untuknya agar mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk membina keluarga sehidup-semati. Siang itu saat pulang dari menjemput anak asuhnya di sekolah, seperti biasa Lusia mampir untuk mengambil surat yang tertumpuk di kotak pos. Ia melihat sebuah amplop airmail yang dikirim untuk Lusia tanpa tertulis alamat dan nama pengirimnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tanpa menunggu sampai di rumah, segera Lusia membuka surat itu. Selembar surat dengan kertas surat berwarna biru muda dan tulisan tangan yang sangat rapi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Pakistan, beginning of month</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">My darling Lusia, How are you? Finally I had to go back to my country because the immigration officer refused to extend my Visa stay in Hong Kong. They did not allow me to visit Hong Kong again for 6 years because some reasons. I tried to call you on the day of my departure but it seemed your phone was off. I always miss you so much, darling. You are the only one in my heart forever. Take care and</span><span>  </span>don&#8217;t think of me too much, honey.<span>  </span>Your Love, Ranjiv</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setelah membaca surat itu, Lusia segera menelepon Shahrul, kawan dekat Ranjiv untuk berjanji bertemu hari minggu di Tsim sha Tsui. Saat bertemu dan membaca surat dari Ranjiv itu, Shahrul baru berani mengatakan yang sesungguhnya siapa sebenarnya Ranjiv.</span><span>  </span>Shahrul menceritakan bahwa Ranjiv sebenarnya sudah menikah di Pakistan dan mempunyai dua orang anak. Cerita itu membuat Lusia benar-benar terpukul, karena dulu Ranjiv berkata bahwa dia masih lajang. Seketika Lusia jatuh berlutut dengan air mata terurai membasahi pipinya yang terpoles dengan make-up tebal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Tuhanku, apakah salahku hingga Kau kirim cobaan yang tiada henti bagiku. Kau pisahkan aku dengan kedua orang tuaku, Kau pisahkan aku dengan anakku, kini saat aku mencoba merajut kebahagiaan rumah tanggaku, Kau pisahkan aku dengan orang yang sangat kucintai. Akankah kabut hitam itu menyertaiku</span><span>  </span>sepanjang hidupku? Begitu tidak adilnya Engkau memperlakukanku sebagai hambaMu.” Lusia berseru di dalam hatinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Malam itu Lusia pulang ke rumah majikannya dengan wajah bermuram durga. Seluruh beban berat hidupnya terpendam di dalam hatinya. Ia tak pernah sedikitpun menceritakan masalah hidupnya kepada teman-teman seperantauan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"></span><span> </span>Dua hari kemudian terdengar berita di sebuah televisi serta koran tentang di temukannya sebuah mayat seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia dengan kondisi patah tulang di sebagian tubuhnya dan darah mengalir dari bagian kepalanya. Serentak majikan Lusia yang saat itu sedang membaca berita itu dan mengenali daerah kejadian langsung bangkit dan meraih kunci mobilnya pergi menuju rumah sakit. Prosedur ketat pada bagian administrasi harus ditembusnya untuk memastikan berita yang baru dibacanya. Setelah lolos dari semua prosedur akhirnya dia diijinkan melihat ke tempat penyimpanan peti mayat dengan diantar oleh dua orang staff rumah sakit. “Oh, my God!” Terbelalak matanya melihat tubuh yang terbaring di depannya. &#8220;Mengapa kau pilih jalan ini, Lusia?&#8221; Majikan Lusia heran, tak percaya atas semua yang dilihatnya. Setelah mendapati kebenaran berita itu, segera ia menelepon istri dan agen tenaga kerja yang selama ini membantunya. Dengan bantuan agen itu, mereka memproses pengiriman pulang<span>  </span>jenazah Lusia. Gadis yang baik hati dan ceria itu begitu memendam banyak luka di hatinya. Kabut hitam di sepanjang perjalanan hidupnya tak mampu dia lawan. Lusia memilih mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari atas gedung dengan ketinggian tiga puluh sembilan lantai. []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=6&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2005/08/18/cerpen-kabut-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilustrasi-kabut-hitam.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kabut Hitam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cover Aksara 4</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2005/05/18/cover-aksara-4/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2005/05/18/cover-aksara-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2005 18:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2005/05/18/cover-aksara-4/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=28&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara4.jpg" title="Cover Aksara 4"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara4.jpg?w=455" alt="Cover Aksara 4" border="0" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=28&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2005/05/18/cover-aksara-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Aksara 4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Lelaki dari Masa Lalu</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2005/05/18/cerpen-lelaki-dari-masa-lalu/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2005/05/18/cerpen-lelaki-dari-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2005 16:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2007/03/18/cerpen-lelaki-dari-masa-lalu/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Malya dimuat di Edisi 4 &#8211; Aksara Tepuk tangan bergemuruh mengiringi “si Burung Merak” menuruni tangga panggung. Seiring dengan itu, lampu-lampu diatas pentas berganti-ganti warna. Merah, hijau, biru dan terakhir gelap sama sekali. Aku masih termenung di tempat dudukku, di atas lantai ubin dengan selembar pamflet “Workshop Fotografi Tingkat SMU” sebagai alasnya. “Devina,” sepotong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=3&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Malya<br />
dimuat di Edisi 4 &#8211; Aksara</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilustrasi-lelaki-dr-ms-lalu.jpg" title="Lelaki dari Masa Lalu"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilustrasi-lelaki-dr-ms-lalu.thumbnail.jpg?w=455" alt="Lelaki dari Masa Lalu" align="left" border="0" /></a><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> Tepuk tangan bergemuruh mengiringi “si Burung Merak” menuruni tangga panggung. Seiring dengan itu, lampu-lampu diatas pentas berganti-ganti warna. Merah, hijau, biru dan terakhir gelap sama sekali. Aku masih termenung di tempat dudukku, di atas lantai ubin dengan selembar pamflet “Workshop Fotografi Tingkat SMU” sebagai alasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Devina,” sepotong nada membuyarkan lamunanku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Kamu Devina khan?” Kutatap sosok kurus berambut sebahu di depanku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Betul, apa kita pernah bertemu?” aku balik bertanya. Lelaki berbaju hitam itu mengulurkan tangannya. Kelegaan jelas membayang di wajahnya yang tirus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span id="more-3"></span></span><span>            </span>“Ridho,” katanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Ridho Anwari,” lanjutnya sambil menggenggam tanganku erat-erat. Aku menerima jabatan tangannya meskipun tak sehebat dia mencengkeram tanganku. Seolah sadar aku belum begitu menerimanya secara utuh sebagai orang yang kukenal, Ridho, demikian lelaki itu menyebut namanya, melepaskan genggamannya atas tanganku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“SDN I. Ingat? Pohon jambu di halaman kiri dekat kantin, pohon pepaya di belakang ruang guru. Lapangan becek kalau hujan….” </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Oh…God!” Pekikanku bukan hanya menghentikan paparan Ridho, tapi juga membuat beberapa pengunjung Festival Puisi menoleh ke arah kami.</p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Jadi kamu Ridho?” tanyaku tak percaya. Kutatap sekali lagi lelaki kurus di hadapanku. Rambut gondrong sebahu, wajah tirus, kemeja hitam yang dipadu dengan jeans warna senada, benar-benar memberikan efek “kesepian” pada penampilannya. Benarkah ini Ridho yang kukenal sepuluh tahun lalu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span><em>“Itu yang itu…. Tarik kuncirnya!”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Aku bilang, aku pinjem buku peermu!”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Kalau gak ngasih contekan, awas!!”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"></span><span>            </span>“Devina cengeng…. Anak mama… cengeng!”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Kilasan peristiwa sepuluh tahun yang lalu, seperti adegan film yang diputar ulang digedung bioskop. Sama nyatanya dengan suara penyair yang membacakan sajaknya diatas panggung. Tapi benarkah lelaki di depanku ini Ridho yang itu? Anak nakal yang sering kali menyembunyikan buku peer ku sehingga aku harus dihukum karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Tidak ada yang tersisa dari sosoknya yang dulu, pipi bulat tembem, tangan yang gemuk putih, serta suara nyaring yang menakutkan, setidaknya untuk gadis kecil berumur dua belas tahun. Tapi ulasan senyum di bibirnya membawa kembali harum tanah becek lapangan upacara setelah terguyur hujan semalaman, sawah basah di belakang sekolah dan suara bayi katak berloncatan dalam lumpur. Ini memang Ridho yang itu, tapi bukan Ridho yang dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Lagi ngapain di Bandung?” tanyaku, mengingat jauhnya kota kelahiran kami dengan tempatnya berdiri saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Nonton Festival Puisi plus ketemu kamu,” jawabnya kalem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Wah…. Jangan bikin geer, dong. Aku tahu pertemuan ini tak sengaja. Kalau bukan karena berjodoh, kamu tak akan menemukanku di antara ratusan pengunjung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Terserah….., tapi sejak dari rumah aku sudah tahu akan ketemu seseorang yang spesial, makanya aku bawa ini sebagai tanda mata,” katanya. Disodorkannya buku saku seukuran buku Tabanas ke arahku. Tertulis disampulnya “Antologi Puisi Jejak langkah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Wah…., sudah jadi penyair rupanya,” kataku sambil membuka-buka buku puisinya. Lumayan, setidaknya ada dua puluh puisi didalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Enggak juga, kebetulan aku masuk Fakultas Sastra, ya… semacam peer dari dosenlah,” katanya diiringi tawa renyah. Aku ikut tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Ya… apalah, yang jelas kamu sudah gak suka narik-narik kuncir anak orang lagi khan?” tanyaku melucu. Tawa Ridho semakin menjadi. Beberapa penikmat seni bukan hanya menoleh tapi juga menatap kami dengan pandangan mengusir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Melihat situasi yang tak menguntungkan, kutarik Ridho sedikit menjauhi keramaian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Jadi…. Berapa lama kamu di Bandung?” tanyaku lebih menyerupai bisikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Malam ini aku langsung balik ke Serang,” jawabnya dengan bisikan pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Hah ?!, secepat itu?” kali ini aku tak lagi berbisik. Sebagai gantinya kututup rapat-rapat mulutku, berharap tak ada yang tahu suara itu keluar dari tenggorokanku. Sepertinya aku berhasil, karena tak ada satu orang pun yang mengalihkan pandangannya dari atas pentas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Ridho mengangguk. Sesaat hening mengantarai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Aku pulang dengan bis terakhir,” katanya lirih, seperti mengerti jalan pikiranku. Tak adil memang merampas keceriaan yang baru saja tumbuh setelah sepuluh tahun membeku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Aku mengangguk, menatap jari-jari tangannya yang kurus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Oke….” Kataku susah payah, kupaksakan diri untuk tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Aku senang…., pada akhirnya kita bisa berteman….” Aku kehabisan kata, tak tahu lagi harus mengucapkan apa sebagai salam perpisahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Ya…., teman,” katanya menerawang. Kilasan masa lalu kembali hadir, kali ini diterjemahkan lewat tatapan matanya yang sepi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Oh…!” katanya tiba-tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Sudah jam sepuluh, aku harus berangkat sekarang kalau tidak ingin ketinggalan bis,” ujarnya sambil membetulkan letak tas ransel dipunggungnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Devina…., maukah kau kapan-kapan mengabari aku? Alamatku ada dibelakang buku itu,” katanya lagi sebelum melangkahkan kakinya. Aku mengangguk, menatap punggungnya yang semakin menjauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Benarkah itu Ridho yang itu? Apakah ini cuma mimpi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Genggaman atas buku itu yang menyadarkanku</span><span>  </span>kalau ini benar-benar terjadi. Lelaki itu….., kutekan dadaku dengan buku puisi pemberiannya, mencoba meredakan suatu “rasa” yang tiba-tiba berbuncah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Vina…..” Sentuhan lembut dipundakku seolah mengembalikan kesadaranku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">“Oh…, hallo. Udah selesai? Pulang sekarang?” Aku mencoba tersenyum, berharap Agung, lelaki yang sudah setahun ini jadi pacarku, tidak melihat perubahan rona mukaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Kutekan sekali lagi “rasa” yang menyesakkan dadaku. Oh Tuhan…., jangan sampai rasa ini membuatku terlena, meskipun itu datang tanpa kesengajaan. Diam-diam kusimpan buku puisi pemberian Ridho dalam bak sampah. Apapun yang tertulis disitu, dimanapun dia berada. Aku</span><span>  </span>tak ingin peduli lagi. Bukankah ada dunia yang lebih nyata? Dunia yang aku dan Agung tinggali. Dan aku tak ingin merusaknya saat ini. []</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Bandung, 28 juli 2003</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Malya (Imal Amaliah): </span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Kuliah semester VII jurusan Matematika FKIP UNPAS Bandung. Alamat: LPM Jumpa UNPAS Jl. Tamansari 6-8 Bandung 40116. </span></p>
<p class="MsoHeader"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=3&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2005/05/18/cerpen-lelaki-dari-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/03/ilustrasi-lelaki-dr-ms-lalu.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lelaki dari Masa Lalu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cover Aksara 3</title>
		<link>http://imajio.wordpress.com/2004/01/02/cover-aksara-3/</link>
		<comments>http://imajio.wordpress.com/2004/01/02/cover-aksara-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2004 18:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imajio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imajio.wordpress.com/2004/01/02/cover-aksara-3/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=30&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara3.jpg" title="Cover Aksara 3"><img src="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara3.jpg?w=455" alt="Cover Aksara 3" border="0" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imajio.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imajio.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imajio.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imajio.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imajio.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imajio.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imajio.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imajio.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imajio.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imajio.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imajio.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imajio.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imajio.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imajio.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imajio.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imajio.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imajio.wordpress.com&amp;blog=876406&amp;post=30&amp;subd=imajio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imajio.wordpress.com/2004/01/02/cover-aksara-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb64538763ab6c2fcd734255102f4f20?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imajio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imajio.files.wordpress.com/2007/04/aksara3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Aksara 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
